Internasional . 09/03/2026, 06:55 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Politikus Inggris George Galloway melontarkan sejumlah klaim kontroversial mengenai konflik yang melibatkan Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam podcast miliknya yang berjudul The Last Crusade.
Dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya itu, Galloway menyebut dampak perang yang sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan yang selama ini diberitakan oleh media internasional. Ia menuding ada informasi yang tidak sepenuhnya dibuka ke publik, terutama terkait kondisi di Israel serta jumlah korban yang terjadi.
"Tel Aviv itu sudah mirip seperti Gaza. Kenapa saya tahu, karena saya punya teman di sana," ujarnya serius dikutip Beritasatu.com, melalui di kanal YouTube miliknya, George Galloway dengan judul podcast The Last Crusade, Senin Maret 2026.
Galloway mengatakan bahwa sistem pertahanan udara di Tel Aviv sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Ia mengatakan kondisi tersebut membuat serangan dari Iran lebih mudah terjadi dan menyebabkan kerusakan besar di kota tersebut.
Ia bahkan mengeklaim jumlah warga Amerika Serikat yang tewas di Tel Aviv akibat serangan Iran mendekati 1.000 orang.
Ia juga mempertanyakan laporan korban tewas yang beredar di media. Menurutnya, angka yang diberitakan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan skala serangan yang terjadi.
"Mereka juga berbohong soal jumlah korban. Bagaimana mungkin dengan serangan seperti ini hanya ada enam korban tewas. Saya bertaruh, hampir lebih dari 1.000 korban sudah meninggal. Ini tidak akan bisa mereka sembunyikan selamanya," ujarnya.
Dalam pembahasannya, Galloway juga mengatakan klaim AS dan Israel bahwa mereka telah tewakan 40.000 orang dalam serangan ke Iran adalah tidak benar.
"Jika benar, tentu akan sangat mudah menemukan jenazahnyadan buktinya," klaim George Galloway.
Selain itu, ia juga menilai Amerika Serikat dan Israel kecewa karena masyarakat Iran tidak melakukan pemberontakan terhadap pemerintahnya. Menurutnya, warga Iran justru tetap menunjukkan persatuan menghadapi tekanan dari luar.
"Kini Trump meminta Kurdistan yang maju untuk melawan," kritik George Galloway.
"Masalahnya Kurdistan sudah bosan ditipu oleh Amerika," sambungnya.
George Galloway mengatakan Amerika Serikat akan menggunakan Turki dan Irak sebagai tumbal agar Kurdistan mau melawan Iran. Hal itu dilakukan karena Kurdistan ingin memiliki negara.
"Jika keinginan itu diwujudkan maka sebagian wilayah Turki dan Irak akan dikorbankan untuk Kurdistan," jelasnya.
Sejumlah pernyataan yang disampaikan Galloway itu kemudian memicu perdebatan luas, terutama karena sebagian klaim yang ia sampaikan belum dapat diverifikasi secara independen. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media