Ekonomi . 13/03/2026, 14:17 WIB

Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus 100 Per Barel, ICDX Soroti Konflik AS-Iran

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.co.id – Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga minyak mentah global akan bergerak menguat tajam sepanjang tahun 2026. Tekanan geopolitik di Timur Tengah serta komitmen organisasi produsen minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong harga komoditas ini menuju level psikologis baru.

Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, menjelaskan bahwa pasar minyak mentah saat ini memiliki potensi kuat untuk melaju dalam tren naik (bullish) hingga paruh kedua tahun ini. Level resistansi diperkirakan akan menyentuh angka antara 95 hingga 100 per barel.

"Melihat perkembangan pasar, kami memproyeksikan harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish. Level support sendiri berada di kisaran 75 hingga 80 per barel," ujar Yoga dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat 13 Maret 2026.

Katalis Penggerak: Komitmen OPEC+ dan Geopolitik

Penguatan harga minyak mentah pada awal 2026 dipicu oleh penegasan komitmen aliansi OPEC+ yang berencana mempertahankan pembatasan produksi hingga Desember 2026. Langkah ini memberikan sentimen positif bagi pasar karena menjamin ketersediaan pasokan yang terjaga.

Namun, faktor non-ekonomi justru memberikan dampak yang lebih signifikan. Sejumlah ketegangan geopolitik yang pecah di awal tahun, termasuk eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, telah mengerek harga minyak dari angka 57 per barel pada Januari menjadi 90 per barel di awal Maret 2026.

Selain konflik di Timur Tengah, isu internasional lain seperti dinamika politik di Venezuela hingga kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Donald Trump turut mewarnai fluktuasi harga "emas hitam" ini.

Tantangan Pasca Pelemahan di 2025

Proyeksi penguatan tahun ini menjadi titik balik setelah minyak mentah mengalami masa sulit pada 2025. Sepanjang tahun lalu, harga rata-rata minyak mencatatkan penurunan hingga lebih dari 21 persen dan ditutup di level 60 per barel. Tekanan pada tahun lalu didominasi oleh kebijakan tarif dagang global yang memicu perlambatan permintaan.

Kini, fokus para pelaku pasar beralih sepenuhnya pada perkembangan di wilayah konflik dan kebijakan produksi global. "Indikator utama yang kami pantau tetap terfokus pada situasi di Timur Tengah, kebijakan produksi OPEC+, serta kebijakan tarif dagang internasional," tambah Yoga.

Stabilitas pasar komoditas energi global dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat ketegangan geopolitik mereda dan bagaimana negara-negara produsen menyikapi dinamika permintaan dunia yang terus berubah.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com