Nasional . 17/03/2026, 19:51 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Hitung mundur menuju Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah telah dimulai. Memasuki fase krusial di penghujung bulan suci, banyak umat Islam yang mulai bertanya-tanya mengenai posisi hari ibadah mereka.
Pada 18 Maret 2026, posisi puasa berada di titik yang sangat menentukan, di mana setiap detik menjadi sangat berharga untuk memanen pahala di pengujung bulan penuh ampunan.
Di Indonesia, fenomena perbedaan jumlah hari puasa kembali menjadi sorotan. Hal ini dipicu oleh dua metode penetapan kalender Hijriah yang digunakan oleh Muhammadiyah dan pemerintah – Nahdlatul Ulama (NU).
Berdasarkan sidang isbat yang menetapkan 1 Ramadan pada 19 Februari 2026. Karena itu, tanggal 18 Maret umat Islam telah menjalankan puasa hari ke-28.
Dengan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang menetapkan awal Ramadan lebih cepat, yaitu 18 Februari 2026. Maka 18 Maret, warga Muhammadiyah sudah memasuki puasa hari ke-29.
Perbedaan satu hari ini bukan sekadar angka, melainkan panduan utama bagi umat dalam menyusun strategi ibadah di malam-malam ganjil yang tersisa.
Memasuki hari ke-28 atau ke-29, suasana batin umat Muslim biasanya semakin meningkat. Waktu yang tersisa tinggal hitungan jari sebelum fajar syawal menyingsing.
Penentuan hari ini menjadi kompas bagi setidaknya tiga ibadah besar:
Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini tersembunyi di 10 malam terakhir. Dengan perbedaan hitungan hari, jadwal malam ganjil pun bisa bergeser satu malam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media