Internasional . 17/03/2026, 14:34 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk “mengambil alih” Kuba.
Ucapan tersebut disampaikan pada Senin 16 Maret 2026 di Gedung Putih, dan langsung memicu kontroversi global. Dalam pernyataannya, Trump bahkan menyebut langkah tersebut sebagai sebuah “kehormatan besar”.
Tak hanya itu, ia juga menegaskan pernyataan yang dinilai sangat provokatif.
“Saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengan itu,” ujar Trump.
Pernyataan Trump muncul di saat Kuba sedang menghadapi krisis ekonomi dan energi yang sangat serius.
Negara tersebut mengalami:
Kekurangan pasokan minyak
Pemadaman listrik besar-besaran
Aktivitas ekonomi yang lumpuh
Bahkan, dilaporkan jaringan listrik nasional Kuba sempat kolaps dan membuat jutaan warga kehilangan akses listrik.
Krisis ini diperparah oleh kebijakan Amerika Serikat yang menghentikan pasokan minyak dari Venezuela—salah satu sumber energi utama Kuba.
Pernyataan kontroversial tersebut juga muncul di tengah hubungan panjang yang penuh ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba.
Selama lebih dari 70 tahun, relasi kedua negara dikenal buruk sejak revolusi Kuba pada era Fidel Castro.
Menariknya, saat ini kedua negara sebenarnya sedang membuka jalur dialog untuk memperbaiki hubungan. Namun, pernyataan Trump justru berpotensi memperkeruh situasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media