Nasional . 19/03/2026, 16:14 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Suara gemerisik kertas uang baru yang kaku dan aroma khas cetakan tinta dari Bank Indonesia seolah menjadi aromaterapi tahunan yang dinanti saat Lebaran. Bahkan, warga rela mengantre di mobil kas keliling atau mencegat jasa penukaran uang di pinggir jalan demi bisa mendapatkan uang kertas baru untuk dibagikan kepada sanak keluarga dan tetangga sebagai uang saku Lebaran.
Lebih dari sekadar bagi-bagi uang, tradisi ini adalah potret akulturasi. Mengutip dari berbagai sumber, budaya memberikan uang saku Lebaran atau "persenan" di Indonesia merupakan hasil perkawinan sejarah yang panjang.
Secara teologis, akar tradisi ini dapat ditarik hingga masa Kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara pada abad ke-10, yang kemudian diperkuat oleh Kesultanan Turki Utsmani. Kala itu, penguasa membagikan koin emas, pakaian, hingga manisan kepada rakyatnya sebagai bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.
Di Nusantara, tradisi ini mengalami kristalisasi budaya yang unik. Para sosiolog mencatat adanya pengaruh kuat dari tradisi Angpao masyarakat Tionghoa. Proses akulturasi ini mengubah amplop merah menjadi amplop-amplop kecil bermotif ketupat atau karakter kartun yang kini lazim kita temui. Uang persenan Lebaran biasanya diberikan dengan cara menyelipkan uang ke telapak tangan saat bersilaturahmi untuk bermaaf-maafan.
Uang Kertas dalam Kondisi Baru
Satu hal yang tak terpisahkan dari tradisi ini adalah keharusan menggunakan uang kertas dalam kondisi baru, alias "uang gres". Mengapa harus uang baru?
Secara filosofis, Lebaran adalah momen kembali ke fitrah atau suci. Penggunaan uang yang bersih, kaku, dan belum lecek dimaknai sebagai lembaran hidup yang baru setelah sebulan penuh menempa diri. Memberikan uang baru dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada penerima, sekaligus representasi dari rezeki yang "segar" dan berkah.
Hal inilah yang memicu fenomena ekonomi musiman yakni menjamurnya jasa penukaran uang baru. Mulai dari perbankan resmi hingga pelapak uang di trotoar jalan yang menawarkan pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000. Meski perbankan telah menyiapkan ribuan titik penukaran, animo masyarakat yang tinggi seringkali melampaui kuota, sehingga jasa penukaran uang informal tetap menjadi pilihan bagi mereka yang mengejar kepraktisan demi menjaga marwah tradisi di kampung halaman.
Lebih dari Sekadar Nominal
Secara formal, budaya ini kian mengakar di Indonesia sejak diperkenalkannya Tunjangan Hari Raya (THR) secara resmi pada era Kabinet Sukiman tahun 1950-an. Sejak saat itu, berbagi kebahagiaan melalui uang tunai menjadi norma sosial yang meluas dari lingkungan korporasi hingga ke unit terkecil keluarga.
Namun, di balik nilai nominalnya, ada edukasi yang terselip. Bagi anak-anak, menerima salam tempel adalah perkenalan pertama mereka dengan literasi keuangan. Mereka belajar menunda keinginan (menabung) atau mengelola dana hasil "jerih payah" setelah belajar berpuasa sebulan penuh. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media