Viral . 19/03/2026, 12:17 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948, suasana di Puputan Badung, Bali langsung berubah jadi lautan warna dan energi. Rabu, 18 Maret 2026, parade ogoh-ogoh sukses menyedot perhatian warga dan wisatawan. Anak-anak hingga pemuda turun langsung ke jalan, mengarak ogoh-ogoh dengan penuh semangat dan kreativitas.
Momen ini bukan sekadar hiburan. Tradisi ogoh-ogoh punya makna mendalam yang selalu dinanti setiap tahunnya. Di balik kemeriahan yang terlihat, ada nilai spiritual dan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Bali.
Parade ogoh-ogoh selalu jadi bagian penting dalam rangkaian menyambut Nyepi. Masyarakat Bali memanfaatkan momen ini untuk menetralisir unsur negatif yang dipercaya ada di sekitar kehidupan manusia.
Ogoh-ogoh sendiri biasanya berbentuk makhluk menyeramkan dengan ukuran besar dan warna mencolok. Wujud ini melambangkan sifat buruk atau energi negatif. Dengan diarak keliling dan kemudian dimusnahkan, masyarakat berharap keseimbangan alam kembali terjaga.
Tradisi ini juga menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki hari suci Nyepi. Jadi, tidak heran jika antusiasme masyarakat selalu tinggi setiap tahunnya.
Menariknya, parade ogoh-ogoh kini berkembang menjadi wadah ekspresi seni bagi generasi muda. Anak-anak hingga pemuda berlomba menciptakan ogoh-ogoh dengan desain yang semakin inovatif.
Mereka tidak hanya fokus pada bentuk, tetapi juga detail warna, ekspresi, hingga teknik pembuatan. Hasilnya? Ogoh-ogoh yang tampil semakin artistik dan memukau.
Kreativitas ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dijaga, tetapi juga terus berkembang. Generasi muda Bali berhasil menggabungkan nilai budaya dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan makna aslinya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media