Nasional . 20/03/2026, 13:27 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Hari Raya Idulfitri bukan sekadar momen bermaaf-maafan, melainkan sebuah deklarasi kemenangan atas hawa nafsu selama sebulan penuh. Menariknya, Islam memberikan instruksi spesifik yang sangat kontras dengan rutinitas Ramadan: Anda disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum menginjakkan kaki di lapangan salat Id.
Tindakan sederhana ini bukan tanpa makna. Secara teologis, sarapan di pagi hari 1 Syawal adalah pembatas tegas yang menandakan bahwa bulan Ramadan telah usai dan hukum berpuasa pada hari tersebut adalah haram. Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan yang sangat detail mengenai apa yang beliau konsumsi.
“Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik bahwa ia berkata: Adalah Rasulullah SAW tidak pergi ke salat Idulfitri sebelum beliau makan beberapa kurma… dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. al-Bukhari).
Banyak umat Muslim yang sering menyamakan adab antara Idulfitri dan Iduladha. Padahal, keduanya memiliki aturan yang bertolak belakang dalam hal konsumsi pagi hari. Jika pada Iduladha kita dianjurkan menahan lapar hingga hewan kurban disembelih, pada Idulfitri, makan adalah sebuah ketaatan.
Perbedaan mendasar ini ditegaskan dalam riwayat Abdullah bin Buraidah:
“Diriwayatkan dari ‘Adullah Ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sampai shalat lebih dahulu.” (HR. at-Tirmidzi).
Anjuran untuk makan sebelum berangkat ke lapangan memiliki beberapa signifikansi penting bagi setiap muslim:
• Penegasan Status Hukum: Makan di pagi hari adalah bukti fisik bahwa kewajiban puasa telah berakhir. Ini adalah bentuk ketaatan terhadap waktu yang telah ditetapkan Allah SWT.
• Energi untuk Syiar: Salat Id biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka dengan durasi yang cukup lama termasuk khutbah. Sarapan memberikan energi bagi jamaah untuk tetap khidmat dan bersemangat mengumandangkan takbir.
• Keceriaan Hari Raya: Idulfitri adalah "Hari Makan-makan" (Idul Fithr secara harfiah berarti kembali makan/berbuka). Memulai hari dengan makanan adalah bentuk perayaan syukur atas nikmat Allah.
Meskipun makanan apa pun diperbolehkan, merujuk pada kebiasaan Nabi, buah kurma dalam jumlah ganjil (1, 3, atau 5 butir) adalah pilihan terbaik. Hal ini mengandung pesan Islam mencintai keteraturan dan mengikuti detail-detail kecil yang dicontohkan oleh sang teladan mulia.
Dengan menjalankan sunnah sarapan ini, Anda tidak hanya mengisi perut. Tetapi juga sedang menghidupkan syiar Islam sejak dari ruang makan rumah Anda.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media