Nasional . 26/03/2026, 19:15 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Beberapa faktor yang menjadi penghambat antara lain:
Kekhawatiran masyarakat terhadap represi pemerintah
Dukungan internal terhadap rezim yang masih kuat
Minimnya momentum politik untuk pemberontakan
Alih-alih melemah, pemerintah Iran justru dinilai semakin solid dalam menghadapi tekanan eksternal.
Sejak 28 Februari 2026, serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan lebih dari 1.340 orang di Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan:
Wilayah Israel
Yordania
Irak
Negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS
Serangan ini menyebabkan kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.
Pemerintah Iran juga menuding Israel berada di balik aksi protes yang terjadi sejak akhir tahun lalu.
Teheran bahkan mengklaim bahwa sejumlah demonstran memperoleh senjata dari pihak luar, yang diduga terkait dengan operasi intelijen Israel.
Meski demikian, tuduhan ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Di tengah eskalasi konflik, Trump disebut masih membuka peluang jalur diplomasi dengan Iran.
Pendekatan ini menunjukkan adanya perbedaan strategi antara Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi situasi di kawasan.
Jika Israel cenderung mendorong tekanan maksimal, AS justru terlihat mencoba menjaga stabilitas dengan tetap membuka opsi negosiasi. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media