Nasional . 31/03/2026, 20:46 WIB

Diplomasi Hijau Indonesia-Jepang: Komodo Bertukar dengan Panda Merah 

Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana  |  Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana

fin.co.id -  Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat relasi bilateral melalui skema "Diplomasi Hijau". Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyepakati penguatan kerja sama konservasi, termasuk program pertukaran satwa (breeding loan) komodo dengan Prefektur Shizuoka.

Kesepakatan tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Menhut Raja Juli Antoni dan Gubernur Prefektur Shizuoka, Yasutomo Suzuki. Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Strategi Pertumbuhan Jepang, Minoru Kiuchi, kedua negara sepakat menjadikan sektor kehutanan sebagai pilar strategis di kawasan Asia Pasifik.

"Kerja sama ini bukan sekadar pertukaran satwa, melainkan bagian dari diplomasi hijau dan komitmen jangka panjang Indonesia dalam menjaga warisan biodiversitas dunia," ujar Raja Juli dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia akan mengirimkan sepasang komodo (Varanus komodoensis) ke Jepang. Sebagai imbalannya, Jepang akan mengirimkan satwa eksotis seperti jerapah dan panda merah untuk dikonservasi di Indonesia. Program ini akan ditindaklanjuti secara teknis melalui kolaborasi antara iZoo Jepang dan Kebun Binatang Surabaya pada akhir April 2026.

Menteri Minoru Kiuchi menyambut hangat rencana ini dan menyebut komodo memiliki popularitas setara panda di Jepang. Pemerintah Jepang bahkan merencanakan upacara penyambutan khusus saat "sang naga" tiba di Shizuoka, yang dijadwalkan paling cepat pada Juni mendatang.

Selain pertukaran satwa, Indonesia mengusulkan penguatan kerja sama melalui skema Sister Park antara Taman Nasional Fuji-Hakone-Izu dengan salah satu taman nasional di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan standar pengelolaan kawasan konservasi dan mitigasi perubahan iklim melalui Joint Crediting Mechanism (JCM).

Namun, langkah diplomasi ini mendapat catatan dari organisasi hak asasi hewan, PETA Asia. Presiden PETA Asia, Jason Baker, mengkritik penggunaan satwa sebagai alat tawar diplomatik. Ia berpendapat bahwa konservasi sejati seharusnya dilakukan di habitat asli, bukan di balik tembok kebun binatang.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara transparan dan sesuai standar internasional. Saat ini, populasi komodo di habitat aslinya tercatat mencapai lebih dari 3.000 ekor, dan program ini diharapkan memperkuat edukasi publik global mengenai pentingnya perlindungan spesies langka tersebut.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com