Nasional . 31/03/2026, 07:21 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Kabar duka menyelimuti tanah air setelah seorang prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL), Praka Farizal Rhomadhon, gugur akibat serangan militer Israel di Lebanon Selatan. Insiden mematikan ini memicu kecaman keras dari pemerintah Indonesia dan Sekretaris Jenderal PBB, menyusul eskalasi konflik antara Israel (IDF) dan Hizbullah yang semakin tak terkendali.
Praka Farizal merupakan personel dari Yonif 113/Jaya Sakti Kodam Iskandar Muda, Aceh, yang tergabung dalam Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Almarhum mengembuskan napas terakhir setelah markas UNIFIL di dekat Adchit Al Qusayr menjadi sasaran serangan pada Minggu 29 Maret 2026. Peristiwa tersebut juga mengakibatkan tiga prajurit TNI lainnya terluka, termasuk Praka Rico Pramudia yang mengalami luka berat.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyampaikan belasungkawa mendalam dari Tokyo, Jepang, sembari mengecam keras tindakan militer Israel yang memperluas serangan ke wilayah sipil dan fasilitas perdamaian. Sugiono menegaskan bahwa Indonesia menuntut investigasi menyeluruh dari pihak PBB untuk menemukan dalang dan sumber serangan tersebut.
"Kami mengecam keras insiden ini dan serangan-serangan Israel di Lebanon Selatan. Indonesia meminta semua pihak segera melakukan deeskalasi dan kembali ke meja perundingan," tegas Sugiono.
Ia menambahkan bahwa perwakilan Indonesia di New York akan segera bertemu dengan jajaran petinggi PBB guna membahas proses pemulasaraan dan pengembalian jenazah almarhum ke tanah air.
Dukungan terhadap langkah pemerintah juga datang dari parlemen. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyatakan keyakinannya bahwa negara akan mengambil langkah diplomasi yang tepat dan terukur. Menurutnya, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
Sukamta menekankan bahwa pengabdian TNI di Lebanon adalah bukti nyata komitmen Indonesia terhadap ketertiban dunia. Gugurnya Praka Farizal, yang meninggalkan seorang istri dan anak berusia dua tahun, menjadi pengingat tinggi akan risiko tugas mulia yang diemban para ksatria bangsa di zona konflik global.
Sekjen PBB, António Guterres, turut memberikan pernyataan resmi melalui akun media sosialnya. Guterres mengutuk keras insiden yang membahayakan keselamatan pasukan perdamaian dan menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia.
Konflik di wilayah Asia Barat ini kini berdampak luas pada stabilitas global. Terkait hal tersebut, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menawarkan diri sebagai mediator demi tercapainya gencatan senjata. Pemerintah Indonesia terus memantau kondisi prajurit lainnya di Beirut melalui KBRI guna memastikan keamanan mereka di tengah situasi yang kian memanas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media