Nasional . 06/04/2026, 15:30 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, melayangkan kritik tajam terhadap kemunculan baliho film berjudul “Aku Harus Mati” di ruang publik.
Menurut dokter spesialis jantung anak tersebut, pesan yang terpampang dalam baliho itu berpotensi menjadi pemicu berbahaya, khususnya bagi remaja yang tengah menghadapi depresi.
Ia mengacu pada data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan sekitar 10 persen remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
"Kalau populasi anak usia 0-18 tahun itu sekitar 90 juta, berarti remaja ada sekitar 35 sampai 40 juta. Nah, 10 persen dari angka itu berarti ada sekitar 3 sampai 4 juta anak yang punya gangguan mental,” ujar dr. Piprim ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 6 April 2026.
Lebih jauh, dr. Piprim menilai tulisan “Aku Harus Mati” pada baliho tersebut dapat ditafsirkan sebagai bentuk penguatan negatif bagi individu dengan depresi berat.
"Kalau anak di kelompok depresi berat yang mungkin sebelumnya sudah ada ide bunuh diri tiba-tiba melihat banner itu, itu seperti mendapat afirmasi atau dorongan. Tentu saja banner ini bukan satu-satunya penyebab, tapi bagi mereka, ini bisa sangat berbahaya," tegasnya.
Tak hanya berisiko secara psikologis, keberadaan pesan tersebut di ruang publik juga menimbulkan persoalan komunikasi, terutama bagi orang tua dalam memberikan penjelasan kepada anak-anak.
Dr. Piprim menyoroti kebingungan yang bisa muncul ketika anak-anak yang baru belajar membaca menemukan pesan bernuansa kematian di tempat umum, terlebih saat mereka sedang didorong untuk tetap semangat dan berprestasi.
“Anak akan bertanya dengan polosnya, ‘Loh, Mama kemarin katanya bilang aku harus semangat, kok tiba-tiba aku harus mati?’ Kan repot menjelaskan itu,” pungkasnya.
Hasyim Ashari/Disway
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media