Internasional . 06/04/2026, 08:50 WIB

Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Selasa Besok Selat Hormuz Tak Dibuka

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.co.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap infrastruktur vital Iran. Washington memberikan tenggat waktu hingga Selasa besok bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur krusial perdagangan minyak dunia yang saat ini dikuasai pasukan Iran.

Ancaman ini muncul menyusul drama penyelamatan dramatis seorang penerbang AS yang pesawatnya jatuh di wilayah pegunungan Iran pada Jumat lalu. Melalui media sosial, Trump bersumpah akan menggempur pembangkit listrik hingga jembatan-jembatan di Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi.

"Negara itu akan 'merasakan neraka' jika Selat Hormuz tidak segera dibuka," tegas Trump dalam pernyataannya yang kontroversial, Minggu 5 April 2026 Waktu setempat.

Drama Penyelamatan di Jantung Musuh

Militer AS mengonfirmasi keberhasilan operasi evakuasi awak jet tempur F-15E Strike Eagle yang jatuh di medan pegunungan yang sulit. Operasi tersebut melibatkan puluhan pesawat bersenjata untuk menjemput pilot yang terluka parah di garis belakang musuh.

Informasi dari internal administrasi AS menyebutkan bahwa CIA sengaja menyebarkan disinformasi di dalam wilayah Iran untuk membingungkan pasukan lokal saat proses evakuasi berlangsung. Meski misi dianggap sukses, Iran mengklaim berhasil menembak jatuh dua helikopter dan satu pesawat angkut AS selama operasi penyelamatan tersebut.

Sebaliknya, sumber intelijen regional menyebutkan militer AS sengaja meledakkan pesawat angkut mereka sendiri yang mengalami kegagalan teknis untuk mencegah teknologi sensitif jatuh ke tangan lawan.

Saling Serang Infrastruktur Sipil

Ketegangan tidak hanya terjadi di udara. Iran dilaporkan mulai menyerang target infrastruktur di negara-negara tetangga Teluk Arab. Serangan drone dan proyektil Iran menghantam fasilitas petrokimia serta pembangkit listrik di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, yang menyebabkan gangguan operasional serius.

Menteri Kebudayaan Iran, Sayed Reza Salihi-Amiri, menilai sikap Trump sangat sulit diprediksi. "Trump telah menjadi fenomena yang tidak mampu dianalisis sepenuhnya, baik oleh warga Iran maupun Amerika. Ia terus berpindah di antara posisi yang saling bertentangan," ujarnya kepada awak media di Teheran.

Di sisi lain, perwakilan Iran di PBB menyebut ancaman Trump terhadap infrastruktur sipil sebagai bukti nyata niat untuk melakukan kejahatan perang. Hukum konflik bersenjata internasional memang melarang keras serangan terhadap fasilitas sipil kecuali terdapat keuntungan militer yang sangat mendesak.

Upaya Diplomasi di Ambang Kebuntuan

Hingga Senin dini hari, ledakan hebat masih terdengar di ibu kota Iran, Teheran, akibat serangkaian serangan udara. Sementara itu, upaya diplomasi terus diupayakan oleh beberapa negara mediator seperti Oman dan Mesir untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz.

Pihak Iran menyatakan hanya akan membuka jalur pelayaran tersebut jika mendapatkan kompensasi dari pendapatan transit sebagai ganti rugi kerusakan perang. Situasi semakin rumit setelah Teheran juga mengancam akan mengganggu jalur perdagangan di Selat Bab el-Mandeb yang menuju ke Laut Merah.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com