Ekonomi . 07/04/2026, 17:31 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Kabar buruk menyelimuti pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah hari ini, Selasa, 7 April 2026, mencatatkan rekor terendah baru dengan menyentuh angka Rp17.090 per 1 USD (dolar AS) pada pukul 13.30 WIB.
Depresiasi sebesar 0,2% dalam satu hari ini menggenapi pelemahan tajam sebesar 2,31% sejak awal tahun.
Faktor utama di balik "darah merah" mata uang Garuda ini adalah kombinasi antara memanasnya konflik AS-Israel terhadap Iran di Timur Tengah serta kekhawatiran investor terhadap ketahanan fiskal Indonesia.
Pelemahan ini bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan sinyal bahaya yang akan merambat langsung ke meja makan setiap rumah tangga di tanah air.
Meskipun menyandang status sebagai negara penghasil energi, Indonesia saat ini mengalami defisit minyak yang mengkhawatirkan.
Data IEA Oil Market Report menunjukkan produksi nasional hanya berada di angka 605.000 barel per hari, sementara konsumsi dalam negeri melonjak hingga 1,65 juta barel per hari.
Selisih hampir 1 juta barel per hari ini harus ditutup melalui impor. Masalah menjadi rumit karena spesifikasi kilang domestik sering kali tidak cocok dengan minyak mentah lokal.
Hal ini memaksa Indonesia terus membeli dari luar negeri menggunakan mata uang dolar yang kini harganya selangit.
Pemerintah kini berada di persimpangan jalan yang sangat sulit. Dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak mentah dipatok sebesar US$70 per barel.
Namun, realitas global akibat gangguan di Selat Hormuz telah menerbangkan harga minyak hingga ke level US$111 per barel.
"Kenaikan harga minyak mentah yang ekstrem dan gangguan rantai pasok global berpotensi besar memicu imported inflation. Masyarakat akan merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga barang konsumsi," tulis laporan ekonomi Bloomberg Technoz.
Jika pemerintah bersikukuh menahan harga BBM demi stabilitas sosial, maka subsidi energi akan membengkak triliunan rupiah.
Sebaliknya, jika harga disesuaikan dengan harga pasar, inflasi akan meledak dan menghantam kelompok masyarakat rentan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media