Internasional . 07/04/2026, 20:27 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Filipina sudah merespons situasi tersebut dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kamboja misalnya, telah menyesuaikan harga BBM hingga 10 persen menjadi USD1,05 per liter.
Sementara negara industri seperti Vietnam, Laos, dan Filipina mengalami kenaikan harga di kisaran 6 hingga 8 persen.
Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh fluktuasi pada Mean of Platts Singapore (MOPS), yang menjadi acuan harga produk minyak olahan di kawasan Asia.
Berbeda dengan sejumlah negara ASEAN lainnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM.
Sebagai langkah alternatif untuk menekan konsumsi energi, pemerintah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini diharapkan mampu menekan konsumsi BBM nasional hingga 20 persen karena berkurangnya mobilitas kendaraan.
Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan pengamat energi dan kebijakan publik.
Situasi di Selat Hormuz saat ini menunjukkan betapa pentingnya jalur laut tersebut bagi stabilitas energi global.
Selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung, dunia akan terus memantau perkembangan di kawasan tersebut karena dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi internasional.
Pernyataan Dubes Iran Mohammad Boroujerdi setidaknya memberikan sedikit kejelasan bahwa jalur vital tersebut masih tetap terbuka, meskipun dengan pengawasan keamanan yang jauh lebih ketat.
Namun, ketegangan geopolitik yang terus berkembang membuat masa depan distribusi energi global tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media