Nasional . 09/04/2026, 22:41 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Masyarakat Indonesia diminta segera bersiap menghadapi transisi cuaca yang ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merilis peringatan musim kemarau 2026 diprediksi akan tiba lebih awal. Selain itu, durasinya jauh lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Fenomena ini dipicu oleh potensi kemunculan El Nino dengan kategori lemah hingga moderat yang mencapai probabilitas 50 hingga 60 persen pada pertengahan tahun.
Dampaknya sangat signifikan: sebanyak 451 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 64,5% wilayah Indonesia akan mengalami sifat kemarau "Bawah Normal", yang artinya akan jauh lebih gersang dan kering dari biasanya.
“Kondisi ini membuat durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya. Kita harus waspada karena puncaknya akan terjadi secara masif pada Agustus 2026,” tegas Faisal, Kepala BMKG.
Berdasarkan analisis data dari 699 ZOM, kedatangan musim kering ini tidak terjadi secara serentak. Sebagian kecil wilayah bahkan sudah mulai merasakan kekeringan sejak Februari dan Maret.
Namun, gelombang besar kemarau akan mulai menyapu wilayah padat penduduk pada bulan-bulan berikut:
Pada bulan ini, wilayah seperti Sumatera Barat, Bangka Belitung, Bengkulu, hingga sebagian besar wilayah Kalimantan dan Maluku akan mulai memasuki periode kering secara permanen.
Agustus diprediksi menjadi bulan paling kritis di mana wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, hingga Papua Pegunungan akan memasuki musim kemarau paling akhir namun dengan intensitas yang tajam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media