Nasional . 09/04/2026, 10:44 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Melalui metode ini, konversi minyak sawit menjadi biogasoline mampu mencapai sekitar 60 persen, meskipun membutuhkan suhu operasi yang cukup tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Namun penelitian tidak berhenti sampai di situ.
Dalam pengembangan selanjutnya, para peneliti mencoba menggunakan katalis bimetalik yang terdiri dari nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO).
Kombinasi kedua bahan tersebut terbukti meningkatkan efisiensi proses produksi biogasoline.
Hosta menjelaskan bahwa nikel oksida berperan dalam memutus rantai karbon, sementara tembaga oksida membantu menghilangkan kandungan oksigen dalam minyak sawit.
“Hasilnya, proses reaksi menjadi lebih efisien dengan penurunan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta peningkatan rendemen biogasoline hingga mencapai 83 persen,” kata Hosta.
Produk bensin nabati yang dihasilkan dari penelitian ini memiliki karakteristik yang cukup mirip dengan bensin komersial yang beredar di pasaran.
Biogasoline tersebut didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek dengan rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin pada umumnya.
Tak hanya menghasilkan bahan bakar utama, proses ini juga menghasilkan produk samping yang tetap bisa dimanfaatkan.
Gas hasil reaksi dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair yang tersisa masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif lainnya.
“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” jelas Hosta.
Penelitian ini juga memperhatikan aspek keberlanjutan melalui pendekatan life cycle assessment (LCA).
Analisis tersebut menunjukkan bahwa produksi biogasoline dari minyak sawit memiliki jejak karbon yang relatif rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media