Internasional . 10/04/2026, 08:57 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Ancaman Trump sebelumnya berkaitan dengan upaya membuka kembali Selat Hormuz. Jalur laut tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, serta menjadi salah satu rute energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut. Penutupan jalur ini sejak dimulainya konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu gangguan pada pasar energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak.
Ultimatum yang Terus Berubah
Ultimatum pertama Trump sebenarnya diumumkan pada 21 Maret dengan batas waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun menjelang tenggat tersebut, ia memperpanjang waktu selama lima hari.
Pada 26 Maret, batas waktu kembali diperpanjang selama 10 hari. Trump kemudian mengatakan bahwa tenggat berikutnya tidak pantas jika jatuh tepat setelah perayaan Paskah yang berlangsung pada 6 April.
Akhirnya, pada Minggu Paskah 5 April, Trump kembali mengeluarkan ultimatum baru dengan batas waktu 48 jam. Dalam unggahannya di Truth Social, ia menggunakan bahasa yang sangat keras.
"Buka Selat (sialan), kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka," tulisnya pada 5 April. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media