Internasional . 14/04/2026, 07:49 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah drastis yang mengguncang stabilitas dunia. Pada Senin, 13 April 2026, Trump mengumumkan bahwa militer AS telah memulai blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Keputusan ini merupakan upaya paksa Washington untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dan menyetujui kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah pecah sejak akhir Februari lalu.
Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Iran membalas dengan ancaman serangan terhadap seluruh pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, termasuk menyasar negara-negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Situasi ini menempatkan ekonomi global dalam risiko besar, dengan bayang-bayang kegagalan gencatan senjata yang bisa memicu perang skala penuh kembali berkobar.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa dunia tidak boleh tunduk pada tekanan Teheran. Ia menuduh Iran melakukan pemerasan terhadap stabilitas ekonomi internasional melalui kendali mereka di jalur pelayaran strategis.
"Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras atau memeras dunia karena itulah yang sedang mereka lakukan," tegas Trump saat mengumumkan dimulainya operasi blokade tersebut.
Meski mengambil tindakan militer yang agresif, Trump memberikan sinyal bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ia mengklaim telah menerima komunikasi dari pihak lawan yang menunjukkan ketertarikan untuk merundingkan kesepakatan baru, meskipun ia tidak merinci detail pembicaraan tersebut.
Laporan dari lembaga U.K. Maritime Trade Operations menyebutkan bahwa blokade ini mencakup seluruh garis pantai Iran, termasuk infrastruktur energi vital mereka. Meskipun demikian, militer AS menyatakan bahwa kapal-kapal yang menuju destinasi non-Iran tetap diizinkan melintas, meski harus berhadapan dengan kehadiran armada perang yang masif di perairan tersebut.
Berdasarkan data pelacakan kapal dari MarineTraffic, setidaknya dua kapal tanker yang mendekati Selat Hormuz terpantau langsung memutar balik sesaat setelah blokade diumumkan. Berikut adalah beberapa poin krusial terkait dampak blokade ini:
Lonjakan Harga Minyak: Harga minyak mentah Brent melonjak mendekati angka 100 per barel, naik signifikan dari harga sebelum perang yang berada di kisaran 70 per barel.
Stagnasi Logistik: Lalu lintas kapal komersial merosot tajam menjadi hanya sekitar 40 kapal per hari, jauh dari angka normal yang biasanya mencapai lebih dari 100 kapal.
Ancaman Balasan: Militer Iran menyatakan bahwa keamanan di Teluk Persia akan bersifat kolektif; jika Iran tidak aman, maka tidak ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman.
Ketegangan ini memuncak setelah perundingan maraton di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan pada Sabtu lalu. Wakil Presiden AS JD Vance menyebutkan bahwa negosiasi buntu karena Iran menolak syarat AS terkait penghentian pengembangan senjata nuklir. Di sisi lain, Iran menuntut ganti rugi perang dan penghapusan sanksi sebagai syarat perdamaian.
Hingga saat ini, militer AS telah menyiagakan setidaknya 16 kapal perang di Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln. Para pakar hukum internasional kini memantau ketat operasi ini, terutama terkait izin masuk bantuan kemanusiaan ke Iran agar blokade tersebut tetap dianggap sah secara hukum internasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media