Nasional . 19/04/2026, 08:59 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Masyarakat Indonesia kembali menyambut peringatan Hari Kartini pada Selasa, 21 April 2026. Momentum ini bukan hanya seremoni, melainkan upaya nasional untuk terus menghidupkan semangat Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan akses pendidikan bagi kaum wanita.
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, tanggal 21 April 2026 tidak tercatat sebagai tanggal merah. Meski kegiatan perkantoran dan sekolah tetap berjalan normal, nilai historis dari peringatan ini tetap menjadi fokus utama di berbagai institusi pendidikan dan instansi pemerintah.
Penetapan hari besar ini bermula dari kebijakan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 yang terbit pada 2 Mei 1964, pemerintah secara resmi menyematkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Kartini.
Keppres tersebut sekaligus menetapkan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional. Soekarno memandang visi Kartini melampaui zamannya, terutama mengenai gagasan pendidikan sebagai instrumen utama untuk memajukan martabat bangsa bumiputera.
Kartini meyakini bahwa pengetahuan merupakan kunci kebahagiaan bagi individu maupun masyarakat. Lahir di Jepara pada 21 April 1879, ia memulai pergerakannya dengan mendirikan sekolah kecil yang mengajarkan baca-tulis, keterampilan tangan, hingga memasak bagi para perempuan di sekitarnya.
Langkah nyata ini memicu perubahan besar pada awal abad ke-20. Pergerakan yang Kartini rintis berhasil mengubah status sosial perempuan Indonesia secara fundamental. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor pendidikan, tetapi juga merambah ke ranah politik, di mana perempuan mulai mendapatkan hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan anggota legislatif.
"Pengetahuan yang diperoleh seseorang merupakan cara untuk mencapai kebahagiaan bagi individu atau sekelompok orang," tulis Kartini dalam salah satu pemikirannya yang dikutip dari laman resmi Kemendikdasmen.
Dunia mengenal pemikiran mendalam Kartini melalui korespondensi tertulisnya dengan rekan-rekannya di Eropa. Setelah wafat di Rembang pada 17 September 1904 dalam usia yang sangat muda, 25 tahun, surat-surat tersebut menjadi bukti otentik perjuangannya.
Mr. J.H. Abendanon kemudian mengumpulkan surat-surat tersebut dan membukukannya dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Karya literasi monumental ini kemudian lebih populer di Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui buku tersebut, publik dapat memahami betapa kuatnya keinginan Kartini untuk membangun karakter bangsa yang cerdas dan beradab.
Hingga saat ini, setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia terus diingatkan bahwa perjuangan mencapai kesetaraan memerlukan ketekunan dan kecerdasan berpikir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sang pahlawan dari Jepara tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media