Politik . 20/04/2026, 11:06 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Analis komunikasi politik Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa, menilai reaksi Jusuf Kalla terhadap serangan dari relawan pendukung Joko Widodo sebagai hal yang wajar. Ia berpandangan, situasi tersebut seharusnya tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Menurut Hensa, pernyataan JK mencerminkan keresahan yang juga dirasakan publik terkait polemik ijazah Jokowi yang dinilai berlarut-larut tanpa kejelasan. Ia mencontohkan sikap Arsul Sani yang langsung menunjukkan ijazahnya saat muncul tudingan, sehingga persoalan dapat segera diselesaikan.
“Concern Pak JK tentang ijazah Pak Jokowi ini memang concern umum, seluruh rakyat Indonesia. Kenapa begitu lama dan bertele-tele? Padahal ada contoh seperti Hakim MK Arsul Sani yang langsung menunjukkan ijazahnya dan selesai,” ujarnya pada Senin, 20 April 2026.
Hensa juga menilai argumen Jokowi yang menyatakan pihak penuduh harus membuktikan tudingan ijazah palsu tidak sepenuhnya relevan, mengingat posisinya sebagai mantan presiden dan tokoh nasional. Ia berpendapat, justru diperlukan langkah yang lebih terbuka untuk menjawab keraguan publik.
“Kalau Pak Jokowi bukan presiden ketujuh dan bukan tokoh bangsa, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi justru karena statusnya, dibutuhkan langkah yang tidak biasa untuk dipertontonkan kepada publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hensa menekankan bahwa kunci penyelesaian polemik ini berada pada Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyebut, pernyataan resmi dari pihak kampus terkait status pendidikan Jokowi akan menjadi penentu akhir.
“Standpoint saya sejak awal adalah UGM. Kalau UGM mengatakan Jokowi kuliah dan lulus, maka selesai buat saya. Maka justru UGM harus dilibatkan dalam proses pembuktian ini,” katanya.
Terkait serangan relawan terhadap JK, Hensa mengingatkan bahwa JK merupakan tokoh bangsa yang patut dihormati. Ia mendorong pendekatan yang lebih bijak melalui dialog daripada memperkeruh situasi di ruang publik.
“Termul atau relawan Jokowi yang menyerang Pak JK bisa menggunakan teknologi paling canggih yang diwariskan para pendiri bangsa, namanya musyawarah. Ketemu Pak JK, dan kembali menjadi satu kesatuan bangsa yang bersinergi positif,” pungkasnya.
Di sisi lain, perbandingan sikap antara Jokowi dan Arsul Sani juga mencuat. Arsul secara terbuka menunjukkan ijazah doktoralnya dari universitas di Polandia saat menghadapi tudingan, sementara Jokowi memilih menempuh jalur hukum.
Menanggapi hal tersebut, politisi Faldo Maldini menyatakan bahwa secara logika, pihak yang menuduh seharusnya membuktikan klaimnya. Ia menilai narasi yang beredar justru menjadi sumber persoalan, bukan keabsahan ijazah itu sendiri.
Menurut Faldo, proses hukum yang sedang berjalan perlu dihormati sebagai mekanisme penyelesaian yang sah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media