Internasional . 22/04/2026, 16:13 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin menunjukkan dampak serius, tidak hanya di medan perang tetapi juga terhadap kekuatan militer dan ekonomi global.
Media berbasis Washington DC, The Hill, melaporkan bahwa militer AS kini telah menghabiskan hampir setengah dari persediaan rudal pertahanan udaranya, termasuk sistem Patriot yang menjadi andalan.
Laporan ini menjadi sorotan karena menunjukkan skala besar operasi militer yang dilakukan AS dalam konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Berdasarkan analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), operasi militer bertajuk Operasi Epic Fury telah menyebabkan pengurangan signifikan pada cadangan amunisi Amerika Serikat.
Dalam laporan yang dirilis Selasa, CSIS mengungkapkan sejumlah data mencengangkan:
Rudal Patriot: hampir 50% dari total stok telah digunakan
Rudal pencegat THAAD: lebih dari setengah persediaan terkuras
Rudal Serangan Presisi (PrSM): lebih dari 45% telah dipakai
Penggunaan besar-besaran ini mencerminkan intensitas konflik yang tinggi, terutama dalam menghadapi serangan bertubi-tubi dari Iran.
Dalam konflik ini, Iran mengandalkan strategi yang cukup efektif, yakni meluncurkan ribuan serangan menggunakan drone murah dan rudal ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pendekatan ini dinilai cerdik karena mampu menguras sistem pertahanan mahal milik AS. Dengan biaya rendah, Iran bisa memaksa Amerika menggunakan rudal mahal seperti Patriot untuk menangkal serangan.
Strategi asimetris ini menjadi perhatian banyak pengamat militer karena berpotensi mengubah pola peperangan modern.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Keputusan ini diambil untuk membuka peluang negosiasi damai lebih lanjut.
Trump menyebut bahwa langkah ini merupakan respons atas permintaan mediator dari Pakistan yang tengah memfasilitasi pembicaraan damai di Islamabad.
Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah Iran maupun Israel akan menyetujui perpanjangan tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media