Internasional . 24/04/2026, 21:30 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Musisi berargumen bahwa memutar lagu dalam kampanye politik menciptakan kesan seolah-olah sang artis mendukung kandidat tersebut.
Hal ini dianggap merugikan citra (brand) sang artis. Dalam kasus Sinatra, karena ia sudah wafat, hak tersebut beralih kepada ahli waris yang kini diperjuangkan oleh Nancy Sinatra.
Data terbaru menunjukkan bahwa perselisihan dengan ikon budaya pop seperti keluarga Sinatra dan band rock legendaris berdampak pada sentimen pemilih muda.
Berdasarkan analisis social media monitoring tahun 2026, lebih dari 65% netizen di bawah usia 30 tahun memandang negatif politisi yang menggunakan karya seni tanpa menghargai keinginan sang seniman.
Bagi pendukung Trump, penggunaan "My Way" dianggap sebagai simbol kepemimpinan yang berani dan mandiri. Namun bagi industri musik, ini adalah pelanggaran etika profesional yang terus berulang.
Meskipun Trump terus membagikan narasi melalui lagu-lagu legendaris, Nancy Sinatra memastikan suara ayahnya tidak akan pernah disalahgunakan untuk kepentingan politik yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keluarga mereka.
Perlawanan Nancy Sinatra menjadi pengingat bahwa meskipun seorang artis telah tiada, prinsip dan martabat karya mereka akan tetap dijaga oleh keturunannya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media