Internasional . 27/04/2026, 07:44 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam. Minyak jenis West Texas Intermediate tercatat menyentuh 96,50 dolar AS per barel, naik signifikan dibanding sebelum konflik. Sementara Brent crude diperdagangkan di kisaran 107,75 dolar AS per barel.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pengamat politik Pakistan, Syed Mohammad Ali, menilai bahwa lambatnya proses negosiasi bukan berarti kegagalan total.
“But the good thing is that the ceasefire is holding, and both sides have a desire to end the conflict in a way that does not backfire at home,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konflik sebesar ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat dan membutuhkan proses panjang serta kehati-hatian dari kedua pihak.
Sejak konflik dimulai, ribuan korban jiwa telah berjatuhan. Di Iran, korban tewas mencapai lebih dari 3.300 orang, sementara di Lebanon lebih dari 2.500 korban akibat konflik yang melibatkan kelompok Hezbollah.
Korban juga tercatat di Israel, negara-negara Teluk, hingga pasukan internasional, termasuk personel Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media