Nasional . 29/04/2026, 10:38 WIB

Menteri PPPA Usul Gerbong Wanita KRL Pindah ke Tengah, Menko AHY: Keselamatan Harus Setara

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.co.id – Tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur memicu perdebatan serius mengenai tata letak penumpang. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan perubahan posisi gerbong khusus wanita guna meminimalisir risiko fatalitas di masa depan.

Usulan ini muncul setelah Arifah meninjau langsung kondisi para korban di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi. Ia mencatat tingginya jumlah korban perempuan karena posisi gerbong khusus wanita saat ini berada di ujung paling depan dan paling belakang rangkaian—titik yang paling rentan hancur saat terjadi benturan.

"Kami mengusulkan agar posisi penumpang perempuan bisa digeser ke area tengah rangkaian kereta. Sebaliknya, penumpang laki-laki yang menempati posisi ujung depan dan belakang," ujar Arifah, Selasa 28 April 2026. Ia mengaku akan segera mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk melakukan kajian ulang terkait teknis tata letak ini.

Alasan Penempatan Gerbong di Ujung Rangkaian

Selama ini, PT KAI menempatkan gerbong khusus wanita di kedua ujung rangkaian dengan alasan teknis guna menghindari penumpukan dan rebutan penumpang saat naik-turun kereta. Namun, insiden pada Senin 27 April 2026 malam membuktikan bahwa posisi tersebut menjadi "titik mati" saat terjadi tumbukan dari belakang oleh kereta api jarak jauh.

Arifah mengaku sempat terkejut karena terdapat korban laki-laki dalam insiden tersebut. Namun, setelah pendalaman, para korban pria ternyata berada di gerbong campuran serta di dalam rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak.

Respons Menko AHY: Keselamatan Bukan Soal Gender

Merespons usulan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa pemerintah menjadikan letak gerbong sebagai poin evaluasi penting. Ia membenarkan bahwa gerbong belakang menerima dampak paling destruktif dalam insiden ini.

Meski demikian, AHY menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah meningkatkan standar keselamatan bagi seluruh penumpang secara menyeluruh tanpa membedakan gender.

"Laki-laki maupun perempuan sama saja, tidak boleh ada yang menjadi korban. Fokus kita bukan sekadar memindah posisi, tapi bagaimana sistem transportasi publik ini benar-benar aman. Safety first tidak boleh hanya menjadi jargon, tapi harus diterapkan dengan baik," tegas AHY.

Kronologi Singkat Pemicu Tabrakan Maut

Kecelakaan yang merenggut 15 nyawa ini bermula saat sebuah KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang. Insiden tersebut membuat perjalanan kereta terganggu sehingga petugas harus memberhentikan KRL lainnya (PLB 5568) di peron Stasiun Bekasi Timur.

Naas, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) rute Jakarta-Surabaya tidak sempat melakukan pengereman sempurna. Akibatnya, kereta eksekutif tersebut menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti, di mana gerbong khusus wanita berada tepat di titik benturan.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com