Internasional . 04/05/2026, 19:44 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan dari Fars News Agency menyebut bahwa sebuah kapal perang Amerika Serikat dipaksa mundur oleh Angkatan Laut Iran saat mencoba melintasi Selat Hormuz.
Mengutip sumber-sumber lokal, media tersebut melaporkan bahwa kapal fregat milik Angkatan Laut AS diduga mengabaikan peringatan yang telah diberikan oleh pihak Iran.
Akibatnya, militer Iran disebut mengambil tindakan tegas hingga akhirnya kapal tersebut mundur dari jalur perairan strategis tersebut.
Tidak hanya itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dua rudal diluncurkan dan berhasil menghantam kapal perang AS yang melintas di dekat wilayah Pulau Jask. Iran menganggap pergerakan kapal tersebut sebagai pelanggaran terhadap keamanan lalu lintas dan pelayaran di kawasan yang sangat sensitif itu.
Situasi ini semakin memanas setelah pernyataan dari Komandan Pasukan Terpadu Iran, Ali Abdollahi, yang menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk menyerang kekuatan militer asing yang memasuki wilayah tersebut tanpa izin.
Ia menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran. Bahkan, Abdollahi memperingatkan bahwa setiap pergerakan kapal, termasuk kapal komersial dan tanker minyak, harus dikoordinasikan dengan militer Iran.
“Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz ada di tangan kami. Setiap kekuatan asing, khususnya militer AS yang agresif, akan kami serang jika mencoba mendekat atau memasuki wilayah ini,” tegasnya.
Ketegangan ini juga dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “membantu membebaskan” kapal-kapal yang terjebak di jalur perairan tersebut.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Iran yang menganggap langkah tersebut sebagai bentuk intervensi dan ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya.
Sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam distribusi energi global. Sekitar sepertiga pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
Situasi terbaru ini pun memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih besar antara Iran dan Amerika Serikat. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer AS terkait klaim serangan tersebut.
Komunitas internasional kini terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz. Banyak pihak berharap agar kedua negara dapat menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna mencegah konflik terbuka.
Jika ketegangan terus meningkat, bukan tidak mungkin jalur distribusi energi global akan terganggu, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak pada perekonomian berbagai negara.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media