Megapolitan . 11/05/2026, 14:39 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menghadirkan teknologi hidrotermal untuk mempercepat pengolahan sampah organik di pasar tradisional Jakarta. Teknologi tersebut diklaim mampu memangkas waktu pengolahan sampah secara drastis dibandingkan metode konvensional.
Jika metode biasa membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 10 hari, teknologi hidrotermal hanya memerlukan sekitar dua jam untuk setiap proses pengolahan.
Hal itu disampaikan Pramono saat meninjau pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati pada Senin, 11 Mei 2026.
“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” ujar Pramono.
Teknologi hidrotermal bekerja dengan memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa melalui proses pembakaran. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah dari sumber, khususnya di pasar tradisional yang setiap hari menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar.
Berdasarkan hasil uji coba pada April 2026, sebanyak 1.708,1 kilogram sampah organik berhasil diolah di Pasar Kramat Jati. Dari proses tersebut dihasilkan 936 liter pupuk cair dengan efisiensi pengolahan hingga 80 kali lebih cepat dibanding metode konvensional.
Selain menghasilkan pupuk cair, proses pengolahan juga memproduksi residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik.
Menurut Pramono, capaian tersebut membuktikan bahwa inovasi pengelolaan sampah di tingkat sumber mampu memberikan hasil nyata sekaligus mendukung pengurangan beban sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang.
“Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya,” tuturnya.
Pasar Kramat Jati sendiri memiliki sekitar 1.803 tempat usaha dengan produksi sampah mencapai enam ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 hingga 80 persen berupa sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, dan makanan.
Pramono menegaskan pasar tradisional memiliki posisi strategis dalam upaya pengurangan sampah kota. Karena itu, pengelolaan sampah di pasar harus dilakukan secara terukur dan tidak hanya bergantung pada pengangkutan ke tempat pembuangan akhir.
“Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” katanya.
Peninjauan tersebut juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang mulai diterapkan sejak 10 Mei 2026. Pramono menilai keberhasilan program itu sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, pedagang, pengelola pasar, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Gerakan pilah sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar permasalahan sampah di Jakarta dapat ditangani secara lebih efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya menjadi kunci dalam memperluas konsep pasar hijau di Jakarta.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media