Ekonomi . 13/05/2026, 08:32 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa 12 Mei 2026. Bank Indonesia mengungkap pelemahan mata uang Garuda dipicu gabungan sentimen global dan kebutuhan dolar yang meningkat di dalam negeri.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan ketegangan geopolitik internasional menjadi salah satu faktor utama yang menekan kurs rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Destry, konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah membuat ketidakpastian global meningkat dan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap banyak mata uang, termasuk rupiah.
Selain faktor eksternal, BI juga mencatat tingginya kebutuhan valuta asing di pasar domestik selama periode April hingga Mei 2026. Permintaan dolar meningkat karena sejumlah kebutuhan rutin seperti pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji.
“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention, baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” kata Destry.
Meski rupiah melemah, BI menyebut minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sepanjang April 2026, arus modal masuk ke dua instrumen tersebut tercatat mencapai Rp61,6 triliun.
Bank sentral juga memastikan kondisi likuiditas valuta asing di dalam negeri masih relatif aman. Salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang naik 10,9 persen secara year to date hingga akhir Maret 2026.
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tutup Destry.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan bank sentral akan terus menjaga stabilitas rupiah di tengah lonjakan permintaan dolar AS.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis (7/5/2026), Perry memastikan kebutuhan valas nasional tetap dapat dipenuhi walau permintaan meningkat selama periode musiman.
Cadangan devisa Indonesia sendiri tercatat turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Angka itu lebih rendah sekitar 2 miliar dolar AS dibanding posisi akhir Maret 2026 yang mencapai 148,2 miliar dolar AS.
Penurunan cadangan devisa terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi rupiah yang dilakukan BI. Meski demikian, pemerintah masih mendapat tambahan devisa dari penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan global bond.
Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.414 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga turun ke posisi Rp17.514 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di level Rp17.415 per dolar AS. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media