Internasional . 13/05/2026, 21:56 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Konflik besar antara Iran dengan AS dan Israel pecah sejak 28 Februari 2026 setelah serangan militer dilancarkan terhadap Iran.
Tehran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk. Iran juga sempat menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Gencatan senjata akhirnya mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan. Meski begitu, pembicaraan damai yang berlangsung di Islamabad hingga kini belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Trump bahkan memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu tertentu sambil terus melakukan tekanan diplomatik terhadap Iran.
Di sisi lain, Trump juga menyatakan akan membahas konflik Iran dalam pembicaraan panjang bersama Presiden Xi Jinping saat kunjungannya ke China.
Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak membutuhkan bantuan China untuk menyelesaikan konflik dengan Iran.
Memanasnya hubungan Iran dan AS kembali meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pengamat menilai gagalnya perundingan damai berpotensi memperpanjang konflik geopolitik, mengganggu jalur perdagangan energi global, serta memicu ketidakstabilan ekonomi internasional.
Kini perhatian dunia tertuju pada langkah Washington dan Tehran dalam beberapa pekan ke depan, terutama apakah kedua negara bersedia membuka kembali jalur diplomasi atau justru memperbesar eskalasi konflik. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media