Internasional . 19/05/2026, 20:45 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Pemerintah Iran mengambil langkah berani di tengah ketegangan yang semakin meruncing dengan Amerika Serikat (AS). Teheran resmi mengumumkan pembentukan sebuah lembaga baru yang memegang mandat khusus untuk mengelola Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling krusial di dunia.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyampaikan pada Senin, 18 Mei 2026, bahwa mereka akan membagikan "informasi terkini mengenai operasi di Selat Hormuz dan perkembangan terbaru" secara berkala melalui platform X.
Kendati demikian, pihak Iran sampai saat ini belum merinci lebih jauh mengenai struktur organisasi, batas kewenangan, maupun tanggung jawab dari badan baru tersebut.
Langkah ini menyusul pernyataan dari Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi.
Ia menyebut bahwa negaranya sudah mematangkan mekanisme pengaturan lalu lintas laut melalui rute spesifik di perairan strategis tersebut. Menariknya, Iran juga bakal memungut tarif khusus atas pelayanan tersebut.
"Dalam proses ini, hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan memperoleh manfaat," tulis Azizi di X.
Ketegangan di jalur pelayaran ini merupakan buntut dari konflik bersenjata yang pecah awal tahun ini. Pada 28 Februari, militer Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran.
Tak tinggal diam, Teheran langsung membalas dengan menggempur posisi Israel serta sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk, yang dibarengi dengan aksi penutupan total Selat Hormuz.
Dampak dari penutupan ini langsung mengguncang pasar internasional. Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Gangguan di wilayah perairan ini otomatis memicu kecemasan akut di tingkat global terkait pasokan minyak mentah, bahan bakar, hingga gas bumi.
Upaya damai sebenarnya sempat membuahkan hasil sementara. Sebuah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi intensif dari Pemerintah Pakistan. Sayangnya, roda diplomasi yang berputar di Islamabad tersebut gagal menelurkan kesepakatan damai jangka panjang bagi kedua belah pihak.
Situasi justru kembali memanas tak lama kemudian. Sejak 13 April, militer Amerika Serikat mengambil tindakan agresif dengan menerapkan blokade laut yang ketat terhadap seluruh lalu lintas maritim Iran di sekitar kawasan selat. Langkah sepihak dari AS inilah yang akhirnya mendorong Teheran membentuk otoritas tandingan guna menegaskan kendali mereka atas Selat Hormuz.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media