Nasional . 20/05/2026, 08:30 WIB

KERAS! Anies Baswedan Soroti Rupiah Terpuruk Sepanjang Sejarah Tapi Pemerintah Anggap Enteng dan Bercanda

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

fin.co.id - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilainya tengah menghadapi tekanan berat. Dalam pernyataannya, Anies menyinggung nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS, kenaikan harga barang, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memberi kepastian kepada publik dan pasar.

Menurut Anies, situasi ekonomi saat ini tidak bisa dianggap biasa karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas. Ia menyebut pelemahan rupiah telah mencapai titik terendah sepanjang sejarah dan diikuti berbagai tekanan ekonomi lainnya.

“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus,” kata Anies dalam pernyataannya di instagramnya, Rabu 20 Mei 2026.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Di sisi lain, tantangan global juga disebut semakin berat, mulai dari situasi geopolitik dunia hingga ancaman cuaca ekstrem.

“Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak. Tantangan di depan juga masih panjang. Geopolitik yang memanas, konflik membayang di Timur Tengah dan para ilmuwan mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan itu sudah ada depan mata,” ujarnya.

Anies mengatakan, dalam situasi penuh tekanan seperti sekarang, hal paling dibutuhkan masyarakat dan pelaku pasar adalah kepastian dari pemerintah. Menurutnya, kepastian tersebut harus hadir melalui transparansi, kejujuran, dan arah kebijakan yang jelas.

“Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula, tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran,” ucapnya.

Ia juga mengkritik pemerintah yang dinilai tidak terbuka dalam menyampaikan kondisi sebenarnya kepada publik. Anies menyebut hanya data positif yang ditampilkan, sementara persoalan yang buruk justru ditutupi.

“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda,” katanya.

Menurut Anies, kondisi tersebut membuat pasar dan investor kehilangan kepercayaan. Ia bahkan menyebut sebagian investor memilih menahan diri hingga keluar dari Indonesia.

“Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur,” lanjutnya.

Selain itu, Anies juga menyinggung soal pemborosan anggaran di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit. Ia menilai pemerintah seharusnya memberi teladan penghematan, bukan justru melakukan pengeluaran yang dianggap bukan prioritas.

“Di saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” ujar Anies.

Ia menambahkan bahwa berbagai peringatan terkait kondisi ekonomi Indonesia telah datang dari banyak pihak, baik ekonom dalam negeri maupun lembaga internasional.

“Peringatan sudah datang dari mana-mana. Dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuangan internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengamati Indonesia,” katanya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com