Nasional . 25/05/2026, 13:24 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Tokoh perempuan adat asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta, menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang selama ini menyeret dirinya dalam gerakan penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua Selatan.
Kini, Mama Sinta mengaku telah mengambil keputusan untuk tidak lagi bergabung dengan kelompok yang selama ini mendampinginya dalam aksi penolakan proyek pemerintah tersebut.
Dalam pernyataannya pada Minggu (24/5), Mama Sinta mengatakan dirinya kini memilih mendukung keberlanjutan proyek pemerintah dan berharap bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalui kerja sama dengan perusahaan yang beroperasi di wilayah Papua Selatan.
“Saya sudah ambil keputusan sendiri. Sekarang saya mau cari pekerjaan di perusahaan karena rumah saya juga sudah tidak layak lagi,” ujar Mama Sinta.
Ia mengungkapkan kondisi kehidupannya saat ini cukup memprihatinkan. Selain rumah yang membutuhkan renovasi, ketiga anaknya juga disebut membutuhkan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Mama Sinta berharap ada perhatian dari pemerintah maupun perusahaan yang terlibat dalam proyek pembangunan di Papua Selatan.
Mama Sinta juga mengaku kecewa karena merasa dimanfaatkan saat dirinya diajak menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua.
Menurut pengakuannya, ia awalnya diajak oleh seseorang bernama Aris bersama kelompok masyarakat adat Marind untuk bersuara menolak PSN.
Namun, situasi tersebut justru membuat dirinya viral di media sosial hingga dijadikan bagian dari film dokumenter berjudul Pesta Babi. Mama Sinta mengaku keberatan karena film tersebut dibuat tanpa izin dan tanpa sepengetahuannya.
“Akhirnya saya viral di mana-mana sampai mereka buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang,” tuturnya.
Ia bahkan menyebut wajahnya terpampang di poster film tersebut. Setelah kejadian itu, Mama Sinta mengaku sudah tidak lagi menjalin komunikasi dengan pihak LBH Papua Pusaka maupun kelompok yang sebelumnya mendampinginya.
Tak hanya itu, Mama Sinta juga menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah terkait berbagai pernyataan yang selama ini dianggap menyerang pembangunan Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan. Ia mengaku saat itu tidak memahami dampak besar dari pernyataan-pernyataan yang dibuatnya.
“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka,” katanya.
Mama Sinta juga memperlihatkan kondisi dapurnya yang sederhana. Ia mengaku bahkan harus menggunakan kayu bakar untuk memasak karena kompor minyak yang dimilikinya sudah rusak dan tidak layak dipakai lagi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media