Internasional . 28/05/2026, 17:36 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memaksa kapal tanker AS berbalik arah di dekat Selat Hormuz setelah kapal itu mencoba melintas dengan sistem radar dimatikan, menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, Kamis, 28 Mei 2026 pagi.
Insiden ini memperparah situasi jalur maritim global yang memang sudah berada dalam kondisi kritis. Mengutip sumber militer yang mengetahui informasi tersebut, Tasnim mengatakan pasukan angkatan laut IRGC merespons dengan cepat terhadap kapal tersebut dan melepaskan tembakan peringatan ke arahnya, memaksa kapal itu mundur.
Tasnim juga melaorkan, insiden tersebut tidak menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material.
Tasnim mengaitkan insiden tersebut dengan ledakan yang terdengar sebelumnya di dekat kota pelabuhan selatan Bandar Abbas, di mana media Iran melaporkan bahwa pertahanan udara telah diaktifkan.
Laporan itu muncul ketika seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa AS melakukan serangan udara putaran lain di Iran selatan, menembak jatuh empat drone serang satu-arah Iran yang menimbulkan ancaman di dekat Selat Hormuz.
"Pasukan AS juga menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan drone kelima," kata pejabat tersebut, dengan syarat anonim, Rabu (27/5).
Pejabat tersebut juga mengklaim legitimasi dari aksi militer mereka, dengan menambahkan, "Tindakan-tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata," tambah pejabat itu.
Media Iran melaporkan tiga ledakan keras terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas pada dini hari Kamis, menyusul serangan AS sebelumnya pada minggu ini yang menggarisbawahi kondisi rapuh upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan perdamaian sementara.
"Hari ini, Pasukan Komando Pusat AS menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran yang menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz," kata seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, dalam sebuah pernyataan kepada AFP.
Konfrontasi ini terjadi saat kedua belah pihak tengah berada dalam proses negosiasi yang rumit. Amerika Serikat melancarkan serangan baru di Iran selatan pada hari Kamis, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan "menyelesaikan pekerjaan" jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan perdamaian.
Ketegangan regional sendiri sebenarnya telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Teheran membalas dengan serangan yang menargetkan Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz. Padahal, gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan dan kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu.
Bahkan setelah serangan sebelumnya pada Senin malam, Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa kembalinya perang tidak mungkin terjadi tetapi militernya tetap "bersiap siaga." Sinyal yang beragam telah menimbulkan pertanyaan tentang pembicaraan yang bertujuan untuk secara resmi mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran.
Dalam sebuah rapat kabinet Gedung Putih yang disiarkan televisi pada hari Rabu, Presiden AS menegaskan posisinya. “Iran sangat bertekad; mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, mereka belum sampai di sana. Kami tidak puas dengan itu, tetapi kami akan puas,” kata Trump. Ia kemudian menambahkan sebuah peringatan keras, “Entah itu atau kita harus menyelesaikan pekerjaan ini.”
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media