Nasional . 28/05/2026, 21:35 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id – Jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah pada Kamis, 28 Mei 2026 atau 11 Dzulhijjah 1447 H. Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi.
Langkah ini sangat krusial untuk memastikan prosesi ibadah berjalan tertib dan aman dari risiko kepadatan massa. Kemenhaj juga meminta jemaah memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan di kawasan Jamarat.
Pada waktu larangan, jemaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas. Jika Anda atau keluarga sedang berada di Mina, pastikan mencatat rincian waktu penting ini dengan saksama.
Kementerian Agama telah membagi waktu ibadah di area Jamarat ke dalam beberapa sesi khusus guna memecah penumpukan massa. Berikut adalah rincian waktu resmi yang wajib jemaah patuhi:
Maria kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.
“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff.
Maria menambahkan, kondisi cuaca di Mina pada siang hari masih cukup panas. Karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan. Kepekaan antarjemaah juga menjadi poin penting yang disoroti oleh pihak kementerian.
“Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat,” ujar Maria.
Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul.
Pos pantau Satgas Mina ditempatkan di titik-titik strategis, antara lain Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta sejumlah pos pengarah pergerakan jemaah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah dari lontar jumrah.
Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan pejalan kaki jemaah haji Indonesia menuju Jamarat, membantu pengaturan arus saat lontar jumrah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media