"Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi, ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," kata Seskab Teddy.
Ia menjelaskan agenda tahunan meliputi berbagai forum internasional seperti KTT ASEAN, KTT G20, KTT APEC, KTT BRICS, hingga Sidang Majelis Umum PBB. Sementara agenda mendesak biasanya berkaitan dengan perkembangan konflik dan krisis yang terjadi di berbagai kawasan dunia.
Diplomasi Prabowo Bertumpu pada Kedekatan Personal
Menjawab kritik terkait frekuensi perjalanan luar negeri Presiden, Teddy menilai kondisi global saat ini menuntut pemimpin negara untuk aktif membangun hubungan dengan para pemimpin dunia.
Menurutnya, Prabowo mulai memimpin Indonesia di tengah berbagai konflik dan krisis internasional yang terjadi di sejumlah kawasan.
"Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat (Arab) Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya," katanya.
Teddy menekankan bahwa hubungan baik antarnegara tidak bisa dibangun secara instan ketika krisis terjadi.
"Jadi, setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan dekat antarpemimpin dunia, dan tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujar Teddy.
Ia menambahkan, pendekatan diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo bertumpu pada kedekatan personal dan hubungan emosional dengan para pemimpin negara lain.
"Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy. *