Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengklarifikasi kepada Reuters bahwa Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani MoU tersebut setelah dokumen itu disepakati secara digital pada hari Minggu oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf, dengan disaksikan oleh Trump.
“Teks Nota Kesepahaman Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden – sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, seperti dikutip oleh kantor berita negara IRNA.
Selain isu rudal, nota kesepahaman ini juga tidak mewajibkan Iran untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi. Padahal, stok uranium tersebut berpotensi digunakan untuk memproduksi setidaknya 11 bom nuklir.
Perjanjian tersebut justru menyatakan bahwa AS dan Iran sepakat untuk mengatasi masalah ini melalui mekanisme yang akan dinegosiasikan dalam dua bulan ke depan. Mekanisme ini akan menggunakan “metodologi minimum yang harus dilakukan secara terpadu di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional).”
Ketika ditanya mengenai persediaan uranium Iran dalam konferensi persnya, Trump terlihat meremehkan signifikansinya. Ia mengklaim bahwa Teheran tidak memiliki akses ke uranium tersebut.
Trump kembali menegaskan bahwa “debu nuklir” Iran terkubur dalam-dalam di bawah reruntuhan setelah pengeboman tiga situs nuklir utama Iran tahun lalu. Ia bahkan berujar bahwa hanya Amerika Serikat dan Tiongkok yang memiliki peralatan canggih untuk menjangkaunya.
Trump Hindari Bencana Ekonomi
Selama sebagian besar masa jabatannya, Trump kerap membela keputusan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran. Namun, kali ini ia justru menekankan batasan dari kekuatan tersebut.
“Jika kami tidak melakukan kesepakatan ini, kami bisa saja menjatuhkan lebih banyak bom dalam tiga minggu, dua hingga empat minggu ke depan, [tetapi] Selat Hormuz tidak akan pernah terbuka, pasar akan… turun ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” jelas Trump, seraya mengemukakan bahwa ia berhasil menghindari “bencana ekonomi” global.
Ia melontarkan kecaman keras terhadap para pengkritik garis keras yang menentang perjanjian tersebut. Trump menyebut mereka sebagai “orang-orang tangguh yang akan membuat negara ini terpuruk.”
“Jika kita terus melakukan pengeboman... Anda berbicara tentang 500, 600, 700 juta dolar AS per hari. Itu adalah uang yang banyak,” ungkap Trump.
Lebih lanjut, Trump bahkan mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat bisa saja kehabisan amunisi jika terus melanjutkan operasi militer di Iran tanpa mencapai kesepakatan pada minggu ini. “Kita akan kehabisan cadangan dalam waktu sekitar empat minggu… Ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan,” tutupnya. (*)