Deddy Sitorus Soroti Ricuh Diskusi di UGM, Singgung Jarak Budiman dengan Mahasiswa

news.fin.co.id - 19/06/2026, 14:49 WIB

Deddy Sitorus Soroti Ricuh Diskusi di UGM, Singgung Jarak Budiman dengan Mahasiswa

Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Sitorus. Foto: Antara

fin.co.id - Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Sitorus menyayangkan kericuhan terjadi dalam kegiatan diskusi yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Meski demikian, ia menilai situasi tersebut sulit dihindari mengingat meningkatnya gelombang protes, dan akumulasi kekecewaan di kalangan mahasiswa.

"Dalam kondisi normal dan secara etis, kejadian itu patut disayangkan terjadi. Tetapi kalau kita bicara konteks di mana akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa sedang memuncak, kejadian itu sulit dihindarkan," kata Deddy kepada wartawan, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Deddy, penyelenggara semestinya mempertimbangkan momentum dan lokasi pelaksanaan kegiatan. Ia menilai, kondisi pergerakan mahasiswa yang tengah menguat seharusnya menjadi perhatian agar tidak memicu gesekan.

Ia menilai, penyampaian pesan atau sosialisasi dari pemerintah seharusnya dilakukan lebih awal atau menunggu situasi yang lebih kondusif sehingga substansi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.

Advertisement

"Seharusnya kegiatan sosialisasi atau propaganda itu dilakukan jauh hari agar pesan tersampaikan. Atau nanti setelah keadaan lebih kondusif untuk menyampaikan respons pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa. Jadi, jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan terjadinya," jelas Deddy.

"Jadi jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan gesekan," sambungnya.

Deddy juga menyinggung sosok Budiman Sudjatmiko yang menjadi bagian dari forum tersebut. Menurutnya, Budiman saat ini memiliki posisi yang berbeda dengan mahasiswa yang sedang aktif melakukan pergerakan.

"Budiman dan para mahasiswa punya jarak dan tembok pemisah yang cukup jauh dan tinggi. Bahkan cenderung berbeda secara diametral," kata Deddy.

Ia menilai perbedaan cara pandang dan posisi politik tersebut pada akhirnya tercermin dalam kericuhan yang terjadi. Karena itu, insiden tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila kegiatan dilakukan di waktu maupun tempat yang lebih tepat.

"Jadi itulah yg kemudian termanifestasi dalam kericuhan itu dan seharusnya bisa dihindarkan jika kegiatannya dilakukan pada waktu atau tempat yang berbeda," ujar dia.

Lebih lanjut, Deddy menilai Budiman tidak bisa lagi memandang dirinya dengan romantisme masa lalu sebagai aktivis mahasiswa. Sebab, menurutnya, posisi Budiman saat ini telah menjadi bagian dari lingkar kekuasaan dan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan mahasiswa yang turun ke jalan.

"Tanya saja sama Budiman, apa yg akan dia lakukan jika dia ada dalam posisi seperti mahasiswa itu di waktu lalu? Dia tidak bisa lagi berpikir romantik dan nostalgik seolah punya deposito abadi sebagai aktivis. Dia sudah menjadi bagian dari kekuasaan, cenderung menikmati dan telah mengubah cara pikir serta posisinya," imbuhnya.

"Sepertinya dia tidak sadar itu karena posisinya sebagai mantan aktivis adalah satu-satunya nilai tukar yang dia pakai untuk berada di lingkar kekuasaan," lanjut dia.

Advertisement
Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID