Ia menilai investasi besar masih diperlukan agar rumah, kota, jaringan transportasi, serta infrastruktur energi mampu bertahan menghadapi suhu ekstrem di masa depan.
Peringatan serupa juga disampaikan Komite Perubahan Iklim Inggris pada Mei lalu. Mereka menyebut sebagian besar infrastruktur Inggris dibangun berdasarkan kondisi iklim masa lalu yang kini sudah tidak relevan sehingga membutuhkan pembenahan secara menyeluruh.
Korban Terus Bertambah
Data UK Health Security Agency menunjukkan lebih dari 10 ribu orang meninggal dunia akibat gelombang panas di Inggris sepanjang periode 2020 hingga 2024.
Bahkan pada Rabu lalu, layanan ambulans London mencatat 641 kasus darurat yang mengancam jiwa dalam satu hari, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah.
Kelompok yang paling rentan tetap meliputi lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit kronis. Namun otoritas kesehatan Inggris menegaskan bahwa risiko kini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, studi terhadap gelombang panas yang lebih kecil pada 2024 menemukan lebih dari 2.300 orang meninggal hanya dalam tiga hari di 12 kota Eropa.
Menurut Prof Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London sekaligus pendiri WWA, sekitar dua pertiga dari jumlah kematian tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Ia menegaskan bahwa setiap tahun para ilmuwan terus menyaksikan suhu yang memecahkan rekor baru, namun dunia masih bergerak terlalu lambat dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa langkah nyata untuk memangkas emisi karbon secara global, gelombang panas seperti yang terjadi saat ini hanya akan menjadi awal dari kondisi yang lebih ekstrem di masa depan.
Bahkan, musim panas tahun ini bisa saja dianggap relatif sejuk jika dibandingkan dengan suhu yang diperkirakan akan terjadi beberapa dekade mendatang apabila dunia gagal mempercepat transisi menuju energi bersih. (*)