Internasional . 06/07/2026, 19:12 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat terus memakan korban jiwa. Pemerintah Prancis melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat cuaca panas yang melanda sejak akhir Juni 2026 kini hampir menyentuh angka 9.000 orang, menjadikannya salah satu bencana iklim paling mematikan dalam sejarah modern negara tersebut.
Lonjakan jumlah korban terjadi setelah National Institute of Statistics and Economic Studies (INSEE) merilis data terbaru yang mencatat tambahan 2.025 korban meninggal pada Jumat, 3 Juli 2026.
Dengan tambahan tersebut, total korban jiwa akibat gelombang panas di Prancis terus meningkat secara signifikan.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan terus bertambah dalam beberapa hari atau pekan ke depan.
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan proses pendataan korban masih berlangsung. Menurutnya, masih terdapat sejumlah korban yang belum tercatat dalam sistem pelaporan elektronik pemerintah.
Hal ini membuat pemerintah belum dapat memastikan angka akhir korban meninggal akibat gelombang panas yang terjadi tahun ini.
"Kami masih melakukan verifikasi data karena diperkirakan masih ada korban yang belum teridentifikasi dalam sistem," ujar Rist.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan rumah sakit, pemerintah daerah, hingga lembaga kesehatan masyarakat untuk memperbarui data korban secara berkala.
Prancis menjadi salah satu negara di Eropa Barat yang mengalami dampak paling serius akibat gelombang panas musim panas 2026.
Suhu udara di berbagai wilayah dilaporkan mencapai 44 derajat Celsius, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pengamatan cuaca di negara tersebut.
Cuaca ekstrem membuat aktivitas masyarakat terganggu. Banyak warga memilih tetap berada di dalam rumah, sementara permintaan terhadap pendingin ruangan melonjak tajam.
Toko-toko elektronik dilaporkan diserbu masyarakat yang ingin membeli kipas angin maupun air conditioner (AC) untuk mengurangi risiko terkena dampak suhu tinggi.
Lembaga kesehatan masyarakat Prancis menyebut gelombang panas tahun ini merupakan yang terburuk yang pernah dialami negara itu. Pada tahun-tahun sebelumnya, suhu udara memang meningkat saat musim panas, namun jarang melampaui angka 40 derajat Celsius secara luas.
Lonjakan suhu juga berdampak langsung terhadap layanan kesehatan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media