fin.co.id - Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana melontarkan kritik tajam kepada Presiden Prabowo Subianto. Melalui tulisan berjudul "Bapak Presiden, Anda Keliru", Denny menilai kepala negara saat ini terisolasi dari informasi yang mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Menurut Denny, terdapat sejumlah indikasi yang menunjukkan Presiden menerima data yang tidak akurat sehingga pernyataan-pernyataannya dinilai semakin jauh dari fakta dan realitas.
"Presiden sedang terisolasi dari informasi yang senyatanya. Banyak tandanya. Akurasi orasi Bapak, makin jauh dari fakta dan realita," tulis Denny.
Ia juga menyinggung pernyataan Presiden mengenai satu penggilingan padi yang disebut bisa meraih keuntungan hingga Rp2 triliun. Menurutnya, narasi tersebut memperlihatkan buruknya kualitas data yang diterima Presiden.
"Narasi satu penggilingan padi yang bisa untung Rp2 triliun menunjukkan parahnya akurasi data di seputaran Bapak Presiden. Laporan siapakah itu, yang menyebabkan Presiden tidak punya filter untuk mencernanya secara logika?" katanya.
Denny menegaskan kritik yang disampaikannya bukan bentuk permusuhan, melainkan upaya mengingatkan pemerintah demi kepentingan bangsa.
"Apapun, kami memilih menjadi kelompok pengingat. Menyampaikan masukan dengan hati bersih, tanpa pamrih. Dinding telinga kebal istana perlu ditembus dengan suntikan kesadaran, dengan informasi kebenaran. Kami izin berkata dengan lantang: Bapak Presiden, Anda keliru," ujarnya.
Ia mengaku menyadari bahwa kritik terhadap pemerintah berpotensi memunculkan berbagai tudingan, mulai dari dicap sebagai pihak asing hingga berisiko dikriminalisasi.
"Bukan tanpa bahaya. Setiap masukan kritis berisiko dikelompokkan sebagai londo ireng, antek asing ataupun aseng. Lalu berisiko dibeli, dikriminalisasi, atau bahkan dihabisi. Namun, saat kedzaliman telanjang di depan mata, maka diam bukan pilihan. Kebenaran harus nyaring diteriakkan. Satu ayat harus disampaikan, apapun risikonya," tulisnya.
Denny juga menolak anggapan bahwa pihak yang mengkritik pemerintah merupakan lawan Presiden.
"Bapak Presiden, kami bukan londo ireng sang pengkhianat. Meskipun tidak masuk barisan relawan, kami bukan lawan. Kami mendukung Bapak, dalam cinta untuk Indonesia. Caranya pasti jauh berbeda. Tidak jarang berkebalikan," katanya.
Dalam tulisannya, Denny menilai pengkhianat justru bisa berasal dari orang-orang terdekat Presiden yang berada di lingkaran kekuasaan.
"Tapi jangan salah baca peta, Bapak Presiden. Pengkhianat tidak jarang adalah orang yang berada paling dekat. Yang dalam diam menyusun siasat, agar Bapak makin tersesat dan semakin jauh dari rakyat," ujarnya.
Ia kemudian menyebut koruptor sebagai pihak yang menurutnya layak disebut sebagai londo ireng.
"Sudah saya katakan, londo ireng itu adalah para koruptor. Wajahnya beraneka rupa, tapi tujuannya sama. Mereka berpesta pora mengeruk uang negara, selagi dalam kesempatan berkuasa, masuk dalam lingkaran Istana," tulis Denny.