Nasional . 05/08/2026, 05:44 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Pemerintah Indonesia kembali mengecam keras aksi militer Israel di Jalur Gaza. Serangan yang menyasar warga sipil serta infrastruktur sipil dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan berpotensi menggagalkan upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Melalui pernyataan resmi yang diunggah di platform media sosial X pada Rabu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa tindakan tersebut hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan di Palestina.
"Tindakan yang dilakukan secara sengaja menghambat implementasi Gaza Peace Plan, dan memperburuk penderitaan rakyat Palestina," kata Kementerian Luar Negeri RI, Rabu 5 Agustus 2026.
Indonesia mendesak Israel sebagai pihak dalam kesepakatan gencatan senjata agar segera menghentikan seluruh operasi militernya secara permanen. Jakarta juga meminta Israel memenuhi seluruh kewajibannya sesuai perjanjian gencatan senjata yang berlaku dan tetap menghormati hukum internasional.
Di sisi lain, Indonesia menyambut baik laporan bahwa Hamas bersama sejumlah faksi Palestina lainnya telah menerima peta jalan pelaksanaan fase kedua rencana perdamaian Gaza. Langkah tersebut disebut sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 Tahun 2025.
"Hal ini merupakan langkah penting untuk proses penyelesaian konflik," kata Kemlu RI.
Pemerintah Indonesia juga mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk menjamin keselamatan warga sipil, tenaga medis, serta pekerja kemanusiaan. Selain itu, Indonesia menekankan pentingnya distribusi bantuan kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan bagi masyarakat Gaza.
Jakarta kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian konflik melalui Solusi Dua Negara. Menurut Indonesia, proses politik yang kredibel sesuai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kesepakatan internasional menjadi jalan menuju perdamaian yang adil, menyeluruh, dan berkelanjutan di Timur Tengah.
Sementara itu, serangan terbaru Israel pada Minggu (2/8) dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 warga Palestina. Korban tewas mencakup tiga anak-anak dan seorang bayi yang belum lahir, sementara sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.
Serangan tersebut terjadi hanya dua hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Dewan Perdamaian (Board of Peace) mengumumkan kesepakatan untuk melanjutkan implementasi fase berikutnya dari gencatan senjata Gaza yang telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Di tengah kesepakatan itu, warga Palestina menilai operasi militer Israel yang masih berlangsung serta pembatasan bantuan kemanusiaan membuat gencatan senjata kehilangan makna. Mereka menyebut kondisi tersebut telah mengubah kesepakatan damai menjadi "sebuah ilusi" sekaligus memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Pejabat Palestina juga menuduh Israel telah ribuan kali melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan militer, penangkapan, dan operasi keamanan. Mereka menyatakan pelanggaran tersebut menyebabkan 1.230 warga Palestina meninggal dunia, 4.076 lainnya terluka, serta memperparah kerusakan di wilayah Gaza.
Gencatan senjata itu sendiri lahir setelah perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Konflik berkepanjangan tersebut telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang.
Selain menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, perang juga menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah tersebut mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media