OMC untuk Padamkan Kebakaran Bromo Belum Bisa Dilakukan, BMKG: Awan Konvektif Belum Terbentuk
Karhutla Gunung Bromo meluas hingga 520 hektare. OMC belum bisa dilakukan karena awan konvektif belum terbentuk.
fin.co.id - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, belum bisa dilakukan. Kondisi tersebut terjadi karena awan konvektif yang menjadi syarat pelaksanaan OMC belum terbentuk di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Kebakaran di kawasan TNBTS sendiri sudah berlangsung selama beberapa hari dan titik api hingga kini belum sepenuhnya padam. Sementara itu, luas area terdampak kebakaran telah mencapai 520 hektare dan masih dalam proses pendataan oleh Balai Besar TNBTS.
Awan Konvektif Belum Terbentuk
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko mengatakan pada Senin, 10 Oktober 2026, pihaknya sebenarnya sudah mempertimbangkan pelaksanaan OMC untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan terdampak. Namun, kondisi cuaca membuat operasi tersebut belum memungkinkan.
Menurut Satyawan, BMKG memperkirakan kondisi yang diperlukan untuk melaksanakan OMC belum tersedia hingga beberapa hari ke depan. Karena itu, pemerintah belum dapat menjalankan modifikasi cuaca untuk membantu proses pemadaman karhutla di Gunung Bromo.
Baca Juga
"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," kata Satyawan.
OMC bekerja dengan meningkatkan potensi hujan melalui penyemaian garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan. Proses tersebut menggunakan pesawat khusus dan mengandalkan data ilmiah dengan melibatkan tim ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara.
Kebakaran Bromo Capai 520 Hektare
Satyawan menjelaskan kebakaran di kawasan TNBTS telah berlangsung setidaknya sejak Selasa, 4 Agustus 2026. Hingga kini, petugas masih menghadapi titik-titik api yang belum sepenuhnya padam sehingga penanganan kebakaran terus berlangsung.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sebagai UPT Ditjen BKSDAE Kementerian Kehutanan di Jawa Timur, mencatat area yang terdampak kebakaran kini mencapai 520 hektare. Namun, angka tersebut masih dalam proses pendataan sehingga luas wilayah terdampak dapat terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.
Baca Juga
Selain luas wilayah yang cukup besar, petugas juga menghadapi persoalan medan. Akses jalur darat yang sulit membuat petugas tidak mudah menjangkau sejumlah titik kebakaran di kawasan Gunung Bromo.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla mengandalkan kombinasi kekuatan pasukan darat dan pemadaman dari udara. Strategi itu menjadi pilihan karena petugas perlu menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.
30 Kali Water Bombing Sudah Dilakukan
Kemenhut menyebut petugas telah melakukan pemadaman udara dengan metode water bombing untuk membantu mengatasi kebakaran. Hingga sebelumnya, pemadaman melalui udara telah dilakukan sebanyak 30 kali.
"Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah," ungkapnya.