Nasional . 11/08/2026, 19:45 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, telah berdampak pada area seluas 899,35 hektare hingga Selasa, 11 Agustus 2026. Tim gabungan terus melakukan penanganan secara terintegrasi untuk mengendalikan titik api sekaligus mencegah kebakaran menjalar ke area vegetasi baru.
Komandan Sektor Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan tim gabungan menangani kebakaran yang berlangsung sejak 3 Agustus 2026 tersebut. Wahyu yang juga menjabat Danrem 083/Baladhika Jaya menyebut luas area terdampak mencapai 899,35 hektare.
"Kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus 2026 ini diperkirakan telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare," kata Wahyu yang juga Danrem 083/Baladhika Jaya dalam keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur.
Operasi pemadaman berlangsung secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai unsur lintas sektor. Kementerian, TNI, Polri, serta empat pemerintah daerah bekerja bersama dalam menangani kebakaran di kawasan Bromo.
Empat pemerintah daerah tersebut meliputi Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian kebakaran agar titik api tidak kembali memperluas area terdampak.
Pihaknya memastikan tim berhasil mengendalikan titik api sehingga kebakaran tidak menambah luas area yang terdampak. Namun, tim masih memusatkan intervensi pada sejumlah titik api yang tetap aktif di kawasan tersebut.
"Saat ini, fokus intervensi menyisakan titik api aktif, yaitu di Watangan 817,342 hektare, Argowulan 25,393 hektare, dan Dingklik, Pakis Bincil, Mungal 56,65 hektare," ucap dia.
Tim menghadapi sejumlah tantangan selama proses pemadaman. Faktor angin dan kondisi cuaca kemarau menjadi salah satu kendala yang memengaruhi upaya pengendalian kebakaran di kawasan Bromo.
Selain itu, kabut tebal juga membatasi jarak pandang pilot helikopter pengebom air ketika menjalankan pemadaman dari udara. Kondisi tersebut membuat tim harus menyesuaikan strategi penggunaan helikopter berdasarkan dinamika cuaca dan kondisi visual di lapangan.
Tim gabungan kini mengoptimalkan penggunaan dua unit helikopter untuk melakukan water bombing. Sebelumnya, tim mengerahkan tiga unit helikopter, tetapi kondisi cuaca dan jarak pandang pilot membuat jumlah tersebut disesuaikan.
"Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan. Prioritas kami adalah memutus jalur rambatan agar tidak meluas ke area vegetasi baru," ujarnya.
Selain mengandalkan pemadaman dari udara, tim juga terus melakukan pengendalian terhadap titik api yang masih aktif. Strategi tersebut bertujuan memutus jalur rambatan api sehingga kebakaran tidak berkembang dan menjangkau vegetasi baru.
Berdasarkan hasil analisa awal, faktor alam dinilai memiliki kemungkinan yang kecil sebagai pemicu kebakaran. Hal itu berkaitan dengan karakteristik kawasan Bromo yang masih memiliki tingkat kelembapan tertentu meskipun kondisi cuaca saat ini memasuki musim kemarau.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media