BGN Siapkan Test Kit di Dapur SPPG, Ferry Koto Semprot Sudaryono: Kenapa Pikirannya Beku dalam Menganalisis Persoalan?
Aktivis gerakan koperasi Zulfery Yusal Koto alias Ferry Koto mengkritik wacana pengadaan CCTV yang terhubung dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat serta alat tes kit di sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
fin.co.id - Aktivis gerakan koperasi Zulfery Yusal Koto alias Ferry Koto mengkritik wacana pengadaan CCTV yang terhubung dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat serta alat tes kit di sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wacana tersebut muncul sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan terjadi di sejumlah sekolah.
Ferry Koto menilai pengadaan perangkat tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan utama yang menyebabkan terjadinya keracunan makanan. Ia mempertanyakan cara Kepala BGN Sudaryono dalam melihat akar persoalan penyelenggaraan program MBG.
"Sudar ini padahal anak muda. Kenapa pikiran-nya beku dalam menganalisa persoalan ya? Apa saja kerja pikiran hariannya, sampai se-beku ini dalam melihat apa yg jadi masalah?" sindir Fery Koto di akun X miliknya @ferrykoto, dikutip pada Selasa 18 Agustus 2026.
Baca Juga
Fery Koto menilai, masalah keracunan ada pada design dan tata kelolanya.
Ferry membandingkan sistem penyediaan makanan pada sejumlah usaha kuliner yang melayani pelanggan dalam jumlah besar.
Ia mencontohkan rumah makan dan usaha katering yang mampu memproduksi serta mendistribusikan makanan dalam jumlah besar tanpa memunculkan persoalan keracunan secara luas.
"Lihat warung, Rumah Makan Padang, Catering, yang melayani juga ribuaan pelanggan, tapi kenapa aman2 saja, tak menyebabkan keracunan? Masalah itu tak selamanya di hilir, kadang acap lahir dari kebijakannya, di hulu. Coba juga lihat kebijakan design tata kelolanya" tuturnya.
Ia secara khusus menyoroti konsep dapur terpusat atau central kitchen yang diterapkan sejumlah rumah makan. Menurutnya, model tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dalam membangun sistem produksi dan distribusi makanan MBG.
"Kenapa misal, rumah makan padang Sederhana, dengan dapur terpusat (central kitchen), aman saja makanannya, walau di distribusi ke seantreo kota dengan jumlah produksi yang bisa jadi jauh lebih besar dari Dapur SPPG" katanya.
Baca Juga
Menurut Ferry, persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG tidak cukup ditangani dengan menambah perangkat pengawasan di tingkat dapur SPPG.
Ia mendorong evaluasi terhadap kebijakan dan desain tata kelola program sejak dari tingkat hulu. Menurutnya, persoalan yang muncul di lapangan bisa saja berkaitan dengan sistem pengelolaan program, bukan semata-mata karena kurangnya alat pengawasan.
"Program memang punya BGN, tapi kalian tak berdaulat dengan program kalian. Lantas berharap program akan berjalan sesuai keinginan kalian?" ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyampaikan rencana memperketat pengawasan keamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan adalah penggunaan test kit di setiap dapur SPPG.
Rencana tersebut disiapkan setelah muncul kasus keracunan makanan di SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. BGN menilai pemeriksaan makanan sebelum dikonsumsi perlu diperkuat karena pengecekan secara organoleptik, seperti melihat kondisi, mencium bau, dan mencicipi makanan, belum tentu dapat mendeteksi seluruh kandungan berbahaya.