Karhutla Jatim Makin Meluas, WALHI Soroti Lemahnya Pengawasan Hutan Negara
Karhutla di Jawa Timur terus meluas selama musim kemarau 2026.
fin.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur terus meluas selama musim kemarau 2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan serius terhadap sistem pengelolaan serta pengawasan kawasan hutan yang berada di bawah penguasaan negara.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur mencatat adanya titik panas yang tersebar di 12 kabupaten/kota berdasarkan pemantauan Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan hingga 3 Agustus 2026.
Potensi luasan wilayah yang terdampak kebakaran disebut telah mencapai 2.927,08 hektare. Angka tersebut tercatat sebelum periode puncak kemarau berlangsung.
Baca Juga
Ancaman karhutla semakin besar seiring kondisi iklim yang cenderung ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Juni 2026 sebagai Juni terkering kedelapan sejak 1991. Sementara Juli menjadi bulan Juli paling kering sejak pencatatan dilakukan, dengan curah hujan berada di bawah 20 milimeter per bulan.
Peluang terjadinya El Nino pada Agustus hingga Oktober 2026 juga disebut mencapai 75 persen. Kondisi tersebut berpotensi diperparah fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yang dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Manajer Kampanye WALHI Jawa Timur Lucky Wahyu menilai, kebakaran hutan tidak semestinya hanya dianggap sebagai dampak fenomena alam.
"Kebakaran hutan tidak boleh terus diperlakukan sebagai bencana alam semata. Kekeringan dan perubahan iklim memang meningkatkan kerentanan, tetapi besarnya dampak kebakaran juga sangat ditentukan oleh bagaimana kawasan tersebut dikelola dan diawasi," kata Lucky, Kamis, 20 Agustus 2026.
21 Kejadian Kebakaran Tercatat
Baca Juga
WALHI Jawa Timur mengidentifikasi sedikitnya 21 kejadian kebakaran sepanjang Juli hingga Agustus 2026 berdasarkan informasi yang dipublikasikan berbagai media.
Sebagian besar lokasi yang dipantau berada di kawasan hutan yang dikelola negara, mulai dari hutan produksi dan hutan lindung Perhutani hingga kawasan konservasi seperti taman nasional dan Tahura.
Di Taman Nasional Baluran, Situbondo, misalnya, luas kawasan yang terdampak kebakaran sejak Mei hingga Agustus tercatat sekitar 920,06 hektare.
Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Biru, Tahura Raden Soerjo, Mojokerto, dengan luas area terdampak mencapai 99,5 hektare. Sementara di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kebakaran dilaporkan telah menjangkau sekitar 70 hektare dan meluas hingga wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang.
"Kondisi karhutla di Jawa Timur tahun ini menunjukkan bahwa pemerintah gagal menerjemahkan peringatan dini mengenai krisis iklim dan ancaman kekeringan ekstrem menjadi langkah mitigasi yang serius," tutur Lucky.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi berulang di sejumlah kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola Perhutani. Beberapa di antaranya berada di Gunung Gombak dan Sampung, Ponorogo; Gunung Ringgit, Gunung Bentar, serta Gunung Geni di Probolinggo; kawasan perbatasan Situbondo-Bondowoso; Gunung Pucangrangga di Lumajang; serta kawasan hutan jati di Trenggalek.