Viral

Viral Karpet Sajadah Jadi Alas Upacara HUT RI di Buton Tengah, Camat Akhirnya Buka Suara

Sebuah foto dari pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara (Sultra), mendadak viral di media sosial.

Viral Karpet Sajadah Jadi Alas Upacara HUT RI di Buton Tengah, Camat Akhirnya Buka Suara
Viral Karpet Sajadah Jadi Alas Upacara HUT RI di Buton Tengah

fin.co.id - Sebuah foto dari pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara (Sultra), mendadak viral di media sosial.

Foto tersebut memperlihatkan sebuah karpet bermotif yang identik dengan karpet masjid digunakan sebagai alas panggung atau tribun dalam upacara. Karpet berwarna merah dan hijau itu tampak menjadi pijakan para pejabat serta tamu undangan selama kegiatan berlangsung.

Penggunaan karpet yang disebut menyerupai karpet sajadah tersebut sontak menuai sorotan. Sejumlah warganet mengecam penggunaan karpet bermotif tempat ibadah sebagai alas untuk diinjak-injak dalam kegiatan resmi pemerintahan.

Peristiwa itu diketahui terjadi saat upacara HUT ke-81 RI di Desa Kanapa-Napa, Kecamatan Mawasangka, Senin, 17 Agustus 2026.

Di tengah polemik yang berkembang di media sosial, Pemerintah Kecamatan Mawasangka memberikan penjelasan mengenai asal-usul karpet yang digunakan dalam kegiatan tersebut.

Camat Mawasangka Imaduddin mengatakan karpet itu dipinjam dari Kantor Desa Kanapa-Napa untuk digunakan sebagai alas panggung bagi pejabat dan tamu undangan.

"Jadi karpet yang saya pinjam itu sudah tidak dipakai lagi di masjid," ujar Camat Mawasangka, Imaduddin kepada wartawan, Selasa, 18 Agustus 2026.

Karpet Disebut Sudah Tidak Digunakan di Masjid

Menurut Imaduddin, karpet yang menjadi sorotan tersebut bukan karpet masjid yang masih digunakan untuk kegiatan ibadah.

Ia menjelaskan, karpet itu merupakan karpet lama yang sebelumnya menjadi inventaris Desa Kanapa-Napa. Karena sudah tidak digunakan di masjid, pihak kecamatan kemudian meminjamnya untuk kebutuhan pelaksanaan upacara.

"Karpet yang kami gunakan itu kami pinjam dari Desa Kanapa-Napa," katanya.

Karpet tersebut kemudian ditempatkan sebagai alas tribun atau panggung untuk memberikan kenyamanan kepada pejabat dan tamu undangan selama upacara berlangsung.

"Panitia menggunakan karpet tersebut sebagai alas tribun untuk memberikan kenyamanan kepada para tamu undangan selama proses upacara berlangsung," jelasnya.

Camat Minta Maaf

Meski telah memberikan klarifikasi mengenai asal-usul karpet, Imaduddin mengakui penggunaan karpet dengan motif yang identik dengan perlengkapan tempat ibadah dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Berita Terkait