Teheran Tantang Sanksi Baru AS: Menlu Iran Sebut Washington Mulai Putus Asa
Iran menilai ancaman sanksi baru AS tidak akan berhasil. Teheran menegaskan tetap teguh dan membuka peluang penyelesaian diplomatik.
fin.co.id - Teheran kembali melontarkan tantangan terhadap Washington, setelah Amerika Serikat mengancam menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menilai ancaman tersebut justru menunjukkan bahwa para pemimpin AS mulai kehabisan pilihan.
Araghchi menepis ancaman sanksi baru AS dan menyebut langkah tersebut sebagai tanda keputusasaan. Ia juga menegaskan bahwa sanksi baru yang diperkirakan akan diumumkan Washington tidak akan mampu menaklukkan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 14.00 EDT, Senin, 24 Agustus 2026. Sebelumnya, Bessent mengancam akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.
Tekanan ekonomi terhadap Iran sendiri sudah berlangsung berat akibat sanksi internasional. Selain itu, infrastruktur Iran telah berulang kali menjadi sasaran serangan dan ribuan orang tewas dalam serangan udara terhadap negara tersebut sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.
Baca Juga
Iran Klaim Tetap Bertahan dan Ganggu Pelayaran di Hormuz
Meski menghadapi tekanan ekonomi dan militer, Teheran menyatakan tetap bertahan setelah hampir enam bulan perang. Iran bahkan telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dengan menolak kapal tanker minyak yang tidak berizin melintasi jalur air tersebut.
Selat Hormuz memiliki posisi penting bagi pengiriman minyak global. Efek dari blokade efektif di jalur tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Araghchi menilai perubahan pendekatan Washington menunjukkan pola yang terus berulang. Menurut dia, AS sebelumnya mengandalkan operasi militer, tetapi kini kembali membawa rencana lama berupa tekanan terhadap Iran.
Menyoroti apa yang disebutnya sebagai "skenario yang berulang-ulang", Araghchi mengatakan dalam sebuah video yang diunggah di Telegram: "Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer untuk kembali mengusung rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka sedang putus asa," tandasnya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Araghchi kemudian meminta Washington mengubah pendekatan dan berbicara dengan Iran secara hormat. Ia mengatakan kedua pihak perlu mencari jalan keluar yang berlandaskan keadilan dan kehormatan.
Baca Juga
Ia juga menegaskan Iran tidak gentar menghadapi tekanan yang datang dari AS.
"Kami tidak pernah merasa takut. Semua tindakan mereka, baik itu blokade maupun langkah militer lainnya yang telah mereka lakukan, telah gagal, dan langkah baru mereka ini pun akan gagal," ujarnya.
Iran Masih Punya Rudal dan Drone
Serangan AS telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran. Serangan tersebut juga melumpuhkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran.
Namun, Teheran masih memiliki kemampuan rudal dan pesawat nirawak atau drone yang dinilai memadai untuk menghambat lalu lintas kapal tanker minyak. Iran juga masih memiliki kemampuan untuk menyerang para pesaing regionalnya.