Ekonomi

IHSG Hari Ini Variatif: Cek Level Krusial dan Arah Angin Pasar Modalnya

IHSG bergerak variatif akibat dinamika geopolitik, arah suku bunga The Fed, serta aturan DHE SDA terbaru. Cek level support IHSG hari ini.

IHSG Hari Ini Variatif: Cek Level Krusial dan Arah Angin Pasar Modalnya
BEI siap pangkas batas minimum harga saham jadi Rp1 di pasar reguler demi dorong likuiditas.

fin.co.id - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang bergerak dalam rentang variatif pada perdagangan Senin seiring maraknya dinamika dari pasar global maupun dalam negeri.

IHSG membuka perdagangan dengan pelemahan 7,01 poin atau 0,11 persen menuju level 6.511,11. Senada, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut terkikis 1,11 poin atau 0,17 persen ke posisi 640,71.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas di area 6.357, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan menembus support 6.454, indeks bisa terkoreksi menuju 6.385-6.377 sebagai support kuatnya,” ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam riset tertulisnya di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Renggangnya Ketegangan Geopolitik dan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Memasuki kabar dari pasar internasional, risiko konflik geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, terutama terkait kekhawatiran disrupsi pasokan minyak dunia. Para pelaku pasar melihat situasi Iran lebih berfokus pada tekanan ekonomi serta sanksi ketimbang gangguan fisik terhadap pasokan.

“Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global,” kata Liza.

Namun, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai inflasi belum melambat secara signifikan memicu kecemasan baru. Investor khawatir proses penurunan tekanan harga memerlukan waktu yang lebih panjang.

Liza menilai situasi tersebut mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio, khususnya pada saham-saham sektor pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga acuan.

Arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap memusatkan perhatian pada langkah The Fed mengendalikan inflasi agar kembali ke target 2 persen. Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa para pembuat kebijakan masih memikul tugas berat guna menekan laju inflasi.

“Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat lebih lama apabila perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan,” tambah Liza.

Kebijakan Baru BEI dan Relaksasi DHE SDA Sektor Pertambangan

Dari dalam negeri, BEI menyiapkan agenda uji coba penyesuaian batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler maupun pasar tunai, lengkap dengan klasifikasi auto rejection baru bersama Anggota Bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026. Skema baru ini menargetkan implementasi penuh pada 7 September 2026.

Di sisi lain, pemerintah resmi meluncurkan relaksasi kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) untuk 64 eksportir pertambangan melalui Pasal 18A PP Nomor 21 Tahun 2026, yang mulai berlaku bagi Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) per 1 September 2026.

Aturan anyar ini meringankan beban eksportir yang memenuhi kriteria, sehingga mereka cukup menempatkan paling sedikit 30 persen DHE SDA selama minimal tiga bulan. Ketentuan ini jauh lebih longgar ketimbang aturan umum yang mewajibkan penempatan 100 persen selama minimal 12 bulan. Meskipun begitu, eksportir tetap wajib memindahkan seluruh atau 100 persen dana hasil ekspor ke dalam Sistem Keuangan Indonesia.

CORE Indonesia memproyeksikan kebijakan relaksasi ini menyangkut potensi DHE berkisar 30 miliar hingga 40 miliar dolar AS per tahun, terutama yang berasal dari rantai industri nikel, baja berbasis nikel, Freeport, alumina, serta produk mineral olahan lainnya.

Berita Terkait