Megapolitan . 03/09/2026, 16:10 WIB

Kekeringan Belum Berakhir, Bogor Andalkan Modifikasi Cuaca

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mempertimbangkan modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah untuk menghadapi kekeringan yang berlangsung lebih dari sebulan. Namun, pelaksanaannya masih terkendala minimnya pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan upaya modifikasi cuaca sebenarnya sudah dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah udara Jabodetabek. Hanya saja, hasilnya belum optimal karena kondisi awan tidak cukup mendukung.

“BNPB dari kemarin melakukan beberapa modifikasi cuaca di wilayah udara Jabodetabek. Tetapi tidak banyak potensi-potensi awan yang bisa dijadikan hujan,” ujar Rudy kepada wartawan, Kamis, 3 September 2026.

Pemkab Bogor, lanjut Rudy, masih memantau perkembangan cuaca setiap hari. Jika terdapat awan dengan kondisi yang memenuhi syarat, pemerintah daerah akan mengupayakan modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi dampak kekeringan.

"Kita sudah mengalami kekeringn lebih dari sebulan, bahkan kita menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sebelum masuk puncaknya kemudian kita perpanjang status tanggap tersebut sampai 15 September 2026 nanti," jelasnya.

Sembari mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Bogor terus menjalankan distribusi air bersih kepada masyarakat yang terdampak. Penyaluran dilakukan setiap hari dengan melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Pemerintah daerah juga menempatkan toren di sejumlah desa untuk menampung pasokan air. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau.

Selain itu, Pemkab Bogor tengah mendata sumber-sumber mata air yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sumber tersebut akan diupayakan memiliki fasilitas penampungan sehingga airnya dapat disalurkan kepada masyarakat di wilayah sekitar.

Rudy mengingatkan potensi kekeringan masih dapat berlangsung lebih lama. Perkiraan sebelumnya yang menyebut puncak musim kemarau terjadi pada September kini berpeluang bergeser hingga Oktober.

“Kita terus berupaya dan berikhtiar bersama sama menghadapi musim kemarau cukup panjang,” pungkasnya.

Sandika Fadilah Rusdani/Disway

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com