Nasional

Sejarah dan Karakteristik Unik Gunung Anak Krakatau yang Lahir dari Letusan Dahsyat 1883

Sejarah dan Karakteristik Unik Gunung Anak Krakatau yang Lahir dari Letusan Dahsyat 1883

Sejarah dan Karakteristik Unik Gunung Anak Krakatau yang Lahir dari Letusan Dahsyat 1883
Sejarah dan Karakteristik Unik Gunung Anak Krakatau yang Lahir dari Letusan Dahsyat 1883

fin.co.id - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memuntahkan material vulkanik sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga akhir pekan. Aktivitas beruntun tersebut memunculkan kembali sorotan publik terhadap sejarah panjang serta karakteristik unik dari gunung api aktif tipe A ini.

Sejarah kelahiran Gunung Anak Krakatau bermula dari letusan mahadahsyat Gunung Krakatau purba pada tahun 1883. Bencana besar itu meruntuhkan sebagian besar badan gunung dan meninggalkan kaldera raksasa di tengah perairan.

Aktivitas bawah laut mulai bergolak kembali pada akhir tahun 1927 hingga akhirnya tumpukan material vulkanik berhasil menembus permukaan air pada tahun 1929. Sejak saat itu, daratan baru tersebut tumbuh menjadi gunung api mandiri yang terus mengalami proses konstruksi fisik hingga kini.

Badan Geologi mencatat eskalasi aktivitas sudah mulai terlihat sejak Juni 2026 melalui deteksi satelit yang menangkap emisi gas SO2 serta anomali panas. Peningkatan kegempaan yang masif lantas mendorong pihak berwenang menaikkan status gunung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026.

Karakteristik pertumbuhan Anak Krakatau tergolong unik karena tidak selalu berjalan linier ke atas. Peristiwa erupsi dahsyat pada Desember 2018 sempat meruntuhkan sebagian badan gunung ke laut dan memicu gelombang tsunami di pesisir Banten serta Lampung.

Pascakejadian tersebut, para ahli vulkanologi dan BMKG tidak hanya mengukur tinggi kolom abu, tetapi juga memantau stabilitas lereng serta potensi longsoran bawah laut yang dapat memicu tsunami non-tektonik sewaktu-waktu.

Rangkaian erupsi terbaru kali ini turut memancarkan fenomena lava fountain atau air mancur lava yang menyemburkan pijar merah menyala disertai suara gemuruh hingga pos pengamatan di Pasauran, Banten. Semburan material panas bahkan sempat mengganggu perangkat CCTV di sekitar kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa erupsi menerus tersebut sudah berhenti pada Minggu (6/9/2026) dini hari pukul 00.04 WIB. Kendati demikian, Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III Siaga mengingat potensi erupsi susulan masih cukup tinggi.

Berita Terkait