Nasional

Prabowo Bilang Pakar Goblok, Prof Henri Subiakto: Ini Sikap Anti-Intelektual, Mirip Donald Trump

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Henri Subiakto menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir sejumlah pakar yang mengkritik pemerintah.

Prabowo Bilang Pakar Goblok, Prof Henri Subiakto: Ini Sikap Anti-Intelektual, Mirip Donald Trump
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

fin.co.id – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Henri Subiakto menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir sejumlah pakar yang mengkritik pemerintah.

Dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026, Prabowo menyebut ada pakar yang dinilainya terlalu pintar hingga justru menjadi “goblok”. Prabowo juga menyinggung adanya pakar yang menurutnya melontarkan fitnah.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Henri Subiakto. Ia mengomentari ucapan Prabowo melalui tulisan berjudul “PRABOWO BENCI PAKAR”.

“Prabowo nampaknya tidak suka bahkan benci dengan Pakar, terutama pada mereka yang mengritiknya,” tulis Henri.

Menurut Henri, sikap tersebut dapat dikaitkan dengan istilah anti-intellectualism atau anti-intelektualisme. Ia menjelaskan istilah tersebut merujuk pada sikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap kelompok intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang melibatkan pakar.

“Sikap seperti ini sering disebut anti-intellectualism, merujuk pada orang atau pemimpin yang bersikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang disebut pakar,” tulisnya.

Henri kemudian menjelaskan bagaimana kelompok intelektual dapat dipandang dalam perspektif tersebut.

“Pakar atau kaum intelektual dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari ‘rakyat biasa,’ terlalu teoritis, tidak praktis, atau bahkan berbahaya,” katanya.

Ia menilai dalam konteks politik modern dan demokratis, istilah anti-intelektualisme kerap digunakan untuk menggambarkan retorika populis yang menyerang kelompok intelektual.

“Dalam konteks politik modern atau demokratis, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan retorika populis dari pemimpin yang aslinya berkarakter otoriter, yang suka menyerang ‘elit intelektual,’ ‘profesor,’ atau ‘pakar’,” tulis Henri.

Menurutnya, kelompok intelektual dapat dianggap mengganggu karena cenderung mempertanyakan kebijakan pemerintah dan menyampaikan pemikiran kritis.

“Baginya kaum intelektual itu dianggap ‘mengganggu’ karena cenderung mempertanyakan kebijakan kekuasaan dan menyebarkan pemikiran kritis,” lanjutnya.

Henri juga menyoroti sikap pemerintah terhadap kritik dan masukan. Ia menilai kondisi tersebut membuat pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dari kelompok intelektual.

“Tidak mengherankan jika selama ini Pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Karena menganggap Pemerintahlah yg paling benar,” tulis Henri.

Ia kemudian menyinggung munculnya berbagai sebutan negatif terhadap pihak-pihak yang kritis terhadap pemerintah.

Berita Terkait